<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399</id><updated>2011-07-31T08:58:36.590+07:00</updated><category term='Sajak'/><category term='cerpen'/><category term='Arikel Umum'/><title type='text'>Unggun Jerami Lembab, di tanah basah, tanah ibu...</title><subtitle type='html'>aku ingin kembali ke masa itu...

menikmati setiap lekuk sawah dan ladang
menikmati aroma daun bawang
menikmati kicau burung dan desiran daun bambu
menikmati setiap nyanyian kesunyian
menikmati riak air berkecipak di bebatuan
menikmati aroma unggun dari jerami lembab

ini tanah ibu...
tanah yang hilang...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-4414112875427241815</id><published>2010-10-13T10:56:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T10:58:39.949+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>1&lt;br /&gt;kuasah katakata menjadi angin, katakanlah cintaku seperti batu yang bertimbunan di lubuk hatimu kepada siapa nak dikabarkan lapar ketika siang ini perut belajar membaca bismillah...? akulah angin yang membuat sarang di telingamu serupa azan yang datang mengusir kantuk, kuasah katakata menjadi angin agar kelak kita tak luput dalam sujud...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;masihkan ingat titik nol di kota kita, tempat pesawat dikutuk menjadi batu, pesawat yang lupa warna dasarnya bisa jadi ia berjubah melayu tapi ia lupa siapa yang mengutuknya serupa malinkundang yang disumpah ibu... aku cari janji kita disana, bukankah kau ingat sepucuk surat pernah kita tanam dibawah tiang lampu merah yang warnanya sudah pucat dimakan hujan dan matahari. kutunggu kau di titik nol kota kita sayang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;hujan turun di kotamu, membasahi balihobaliho para pejabat yang tak henti tersenyum... dengan apa kumaknai senyum mereka semantang kita kian jauh tersuruk rumpun ilalang di sudut kota yang lain. kutanan sekuncup rindu pada gerimis yang belajar menghujam hatimu agar kau kelak memahami bahwa kita tak sekadar melawan nasib tapi meniti takdir yang sudah tersurat, hujan turun lagi di kotamu sayang...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-4414112875427241815?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/4414112875427241815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/1-kuasah-katakata-menjadi-angin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/4414112875427241815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/4414112875427241815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/1-kuasah-katakata-menjadi-angin.html' title=''/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-316911815907714</id><published>2010-10-11T14:42:00.000+07:00</published><updated>2010-10-11T14:44:59.687+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>ia petarung nasib yang mengajarkanku mengasah pisau,&lt;br /&gt;bertahun kami berladang di punggung ibu. ia mengajarkanku tentang&lt;br /&gt;sujud menghapal bau tanah, melawan hujan yg kerap turun senja hari, berpantang&lt;br /&gt;menunjuk pelangi yg jatuh di pemandian. ia juga mengajarkanku&lt;br /&gt;membaca alif,bertahun lampau hanya koran usang yang ia hadiahi&lt;br /&gt;ketika pulang dari rantau yang jauh, katanya "tak ada orang menjual&lt;br /&gt;martabak kesukaanmu..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-316911815907714?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/316911815907714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/ia-petarung-nasib-yang-mengajarkanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/316911815907714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/316911815907714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/ia-petarung-nasib-yang-mengajarkanku.html' title=''/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-7770200605422413596</id><published>2010-10-11T14:41:00.001+07:00</published><updated>2010-10-11T14:45:51.677+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>kucari alamatmu di kota kita yang riuh... jalanan menjelma ular dikepalaku, gedunggedung menjelma monster, mobilmobil menjelma semut yang berbaris menuju hatimu...sungaisungai meluapkan muntahan mabuk semalam, lampu merah mengusap matanya yang kelilipan... balihobaliho seperti mengejek kebodohan kita... masihkah alamatmu di tempat dulu? tempat kita menulis catatan perjalanan yang tak tuntas kita selesaikan...?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-7770200605422413596?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/7770200605422413596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/kucari-alamatmu-di-kota-kita-yang-riuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/7770200605422413596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/7770200605422413596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/kucari-alamatmu-di-kota-kita-yang-riuh.html' title=''/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-6422617178033797525</id><published>2010-10-11T14:40:00.001+07:00</published><updated>2010-10-11T14:46:14.804+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>aku tak peduli apakah catatan ini menjadi puisi, sebab begitu kulahirkan ia menjelma menjadi perahu di luasnya lautan tafsir, aku berhak memberinya nama, tapi tak punya kuasa menggariskan nasib untuknya, aku tak kuasa membangun sepetak rumah untuknya, rumah tempat ia berterteduh dari segala risau, sebab rumah kardus kami telah diamuk orang liar tahuntahun lampau, aku tak tahu apakah yang kutulis adalah sebuah puisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-6422617178033797525?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/6422617178033797525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/aku-tak-peduli-apakah-catatan-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/6422617178033797525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/6422617178033797525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/10/aku-tak-peduli-apakah-catatan-ini.html' title=''/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-1057273503725018250</id><published>2010-01-12T10:46:00.001+07:00</published><updated>2010-01-12T10:46:42.437+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>merindukanmu... membawa ku kembali pada aroma asap jerami lembab, takkan mungkin ku mengeluh walaupun dingin tubuhmu seperti meyetubuhi tubuhku. masih saja kudengar lengkingan bunyi kereta meskipun rel2 kereta batubara telah lama jadi besi tua, meski rumah gadang hampir roboh menyisakan tubuhnya yang renta... dimanakah... kemudian kita bersua? mungkin saja di tengah kota yang kita asing mengeja namanya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-1057273503725018250?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/1057273503725018250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/01/merindukanmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/1057273503725018250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/1057273503725018250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/01/merindukanmu.html' title=''/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-5367440840617400000</id><published>2010-01-12T10:44:00.000+07:00</published><updated>2010-01-12T10:45:12.186+07:00</updated><title type='text'>senjamu</title><content type='html'>apakah bijak jika dirimu melipat senja yang kemungkinan lewat, bukankah katamu senja tempat anak setan menyalin rupa...? sampai titik ini sungguh aku masih mencium aroma tubuhmu yang tak lain adalah aroma menyengat dari lumpur kering dan ilalang rangas di penghujung musim kemarau... sungguh aku masih belajar memahami p...erjalanan yang telah kau rancang ini, jika senja sebentar lagi lewat...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-5367440840617400000?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/5367440840617400000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/01/senjamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/5367440840617400000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/5367440840617400000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2010/01/senjamu.html' title='senjamu'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-4512953651365262268</id><published>2008-11-28T18:50:00.000+07:00</published><updated>2008-11-28T18:51:22.769+07:00</updated><title type='text'>sajak</title><content type='html'>SENANDUNG GALAU BATANG KAMPAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rakit-rakit kenangan batang kampar&lt;br /&gt;bukankah itu yang selalu kau rindukan &lt;br /&gt;sepanjang perjalanan tahun-tahun lampau&lt;br /&gt;di tiang ujung jembatan inikah penantian itu, &lt;br /&gt;… wahai gadi berkerudung merah&lt;br /&gt;sejuta puisi akan kau labuhkan?&lt;br /&gt;senyap yang menyelinap&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersama keping-keping kenangan yang hanyut&lt;br /&gt;oy… karamkan saja sampan-sampan&lt;br /&gt;sepanjang pesisir batang kampar&lt;br /&gt;lenyapkan bersama riwayat datuk tabano&lt;br /&gt;dan hisaplah daun-daun yang mabuk itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bukankah tanah kita ranah mimpi?-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mentaripun rebah seperti matamu&lt;br /&gt;keping kenangan telah jauh hanyut&lt;br /&gt;bersama kecemasan bernama adzan&lt;br /&gt;inikah simbol kemajuan?&lt;br /&gt;oy… gadi, &lt;br /&gt;di tanah itu telah kubangun simbol serambi mekkah&lt;br /&gt;seperti yang ada dalam mimpimu&lt;br /&gt;berhentilah mengigau&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kampung-kampung kenangan batang kampar&lt;br /&gt;inikah yang tak pernah kau temukan&lt;br /&gt;telah lama hilang ditelan bendungan&lt;br /&gt;lenyap menyelinap serupa riwayat panglimo khotib&lt;br /&gt;oy… gadi dimanakah arahmu kini&lt;br /&gt;telah pulakah hanyut ditelan batang kampar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untukmu gadi”&lt;br /&gt;aku menunggu disini,&lt;br /&gt;berharap gerimis menunjukkan jejak &lt;br /&gt;merintang jarak&lt;br /&gt;ku tunggu juga kepulanganmu di atas bukit cadika,&lt;br /&gt;belailah rinduku yang ngilu&lt;br /&gt;masihkah janjimu setajam sembilu&lt;br /&gt;cepatlah kita tuntaskan&lt;br /&gt;sebelum selesai ziarah ini&lt;br /&gt;sebelum hujan menjelma badai&lt;br /&gt;sebelum titik hujan yang masih berdenting di atap rumah&lt;br /&gt;memenjarakan waktu di titik ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sudikah dirimu menanti pelangi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku kian gamang&lt;br /&gt;senandungkan batang kampar yang pasang&lt;br /&gt;tebas saja rumpun-rumpun aur&lt;br /&gt;biar runtuh tebing dan pematang&lt;br /&gt;bukankah kita ingin menyaksikan&lt;br /&gt;semua lipatan kenangan hilang ditelan gelombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus sajalah menyusuri&lt;br /&gt;hikayat yang hanyut itu&lt;br /&gt;serupa parade sampan hias balimau kasai&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Bangkinang-Pekanbaru, Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-4512953651365262268?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/4512953651365262268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/11/sajak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/4512953651365262268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/4512953651365262268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/11/sajak.html' title='sajak'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-5276145881624487715</id><published>2008-11-28T18:40:00.001+07:00</published><updated>2008-11-28T18:47:29.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Bunga Larangan</title><content type='html'>Mereka dipertemukan kembali oleh waktu. mereka masih sama-sama membisu bermain dengan kerumitan masa lalu. Yusri telah menghabiskan berbatang-batang rokok, puntungnya tumpang tindih dalam asbak di hadapan mereka. Sementara Marni masih menatap keluar jendela. Matahari hampir redup. Ada embun yang meleleh di kaki gelas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yusri menoleh sejenak ke arah Marni, kemudian menghembuskan sisa asap dari hisapan terakhir. Ia tusukkan puntung rokoknya ke dalam asbak dan menyedot juice yang terasa hambar. Ia keluarkan kamera digital dari tasnya dan memotret langit yang samar-samar masih memendarkan sisa matahari. Sengaja Yusri memilih tempat itu, mengingatkan ia pada matahari yang selalu tenggelam di balik bukit ketika mereka melewatkan senja di tengah-tengah jembatan tua dan menyaksikan perahu-perahu yang mengapung sepanjang pesisir danau. Anak-anak hilang timbul dari air danau yang membiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah kampung itu, lirihnya dalam hati. Masihkah kukuh dengan segala aturan yang membelenggu, sekukuh Merapi dan Singgalang? Atau sudah luruh serupa Rumah Gadang yang mulai lapuk dan lekang oleh musim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelayan menghampiri, “mau pesan lagi, tuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusri melirik Marni, perempuan itu menggeleng tanpa suara. “minta rokok sebungkus lagi” kata Yusri dan melirik kembali perempuan itu, tetap tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marni masih bermain dengan pikirannya sendiri dan melarutkannya melewati jendela kaca yang bening. Di seberang kaca ia mendapati kegelapan yang hampir sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup selalu membuat batasan-batasan tersendiri, atau memang kita yang telah membuat batasan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kita mesti terikat oleh adat mande?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau harus melupakan Yusri, karena dia tak mungkin menjadi laki kau karena kalian sepasukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mande…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya kau lupakan dia kalau tak mau terbuang dari adat.” Marni mendengus panjang. Ada haknya yang direnggut paksa oleh mande. “Si Syukri lebih pantas buat kau...”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syukri, Lelaki perantauan itu kemudian hadir dalam kehidupan Marni sebagai lelaki pilihan mande dan abak. Lelaki yang masih berpautan darah dengan abak. Siapa yang tak sudi bermenantu Syukri? bujangan kaya di ranah rantau yang memiliki dua buah toko grosiran pakaian jadi dan sebuah restoran padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mande sudah membuat perhitungan dengan Tek Supiah, bahwa kau akan dikawinkan dengan Syukri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tapi mande…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja terus merambat jauh, mereka masih saja sama-sama membisu. Marni menyedot juice yang hampir habis. Ia melirik Yusri sekilas dan melemparkan pandangan ke sekeliling. Ruangan itu masih sepi, hanya beberapa meja yang terisi. Alunan musik mengiringi ayunan perasaan mereka, terkadang ada nada yang lirih dan merintih berikutnya ada nada yang tumpang tindih. Ia tak mempedulikan rentak-rentak irama itu yang ia tak habis pikir kenapa mereka masih membisu, apakah perpisahan sekian tahun telah merendam semua perasaan dan kenangan yang pernah hadir dalam hati mereka masing-masing. Ia masih berpikir bagaimana cara untuk memulai percakapan dan berharap Yusri menemukan cara pula untuk mengakhiri kekakuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemui Yusri membuka kembali masa indah yang pernah mereka lalui sepanjang menyusuri sungai dan jembatan kereta yang berkarat, jalan-jalan kampung yang berdebu, sawah-sawah yang bertingkat, ladang-ladang bawang, bau asap dari unggun jerami yang lembab, atau membuka kembali gambaran-gambaran impian yang pernah mereka tautkan sepanjang ranah perantauan, menambatkan jalinan kasih di sudut-sudut kantin kampus, coretan-coretan di belakang kursi bus kampus, gedung bioskop tua, mal dan plaza yang menjulang, namun pertemuan ini juga menghadirkan perasaan bersalah yang berselimut di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ia akan mengkhianati sumpah perkawinannya dengan Syukri, lelaki yang telah memberinya dua orang anak itu. Mungkin pulakah ia menyalakan sepercik api cinta yang telah lama terpadam oleh putaran musim dan kungkungan adat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah aku memenuhi ajakannya untuk bertemu sore ini? Pikir Marni saat siang tadi menerima pesan singkat dari Yusri. Bukan ajakan, sebenarnya Marnilah yang terlebih dahulu memancing pertemuan ini. Tanpa sengaja pada suatu siang mereka bersua di pelataran parkir pusat perbelanjaan di kota ini. Mereka sempat berbincang sekedar basa-basi dan bertukar nomor ponsel. Dari pertemuan itu mereka kerap bertukar kabar lewat sms sampai-sampai pada persoalan rumah tangga yang di hadapi Marni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mereka masih tetap membisu. Marni tetap nelangsa menjangkau setiap jengkal kenangan masa lalu yang masih tertanam di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah uda membawaku kawin lari…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…!!!” Marni mendesah panjang, Marni menggeleng, ia tahu Yusri tak berani mengambil resiko membawanya kawin lari. Mengambil sebuah pilihan dan sikap bahwa hidup tidak mesti harus tunduk pada aturan adat. Pernahkah kita bisa memilih untuk dapat lahir dari rahim yang lain? untuk dapat lahir dari suku yang lain? Begitu tanya Marni berkali-kali kepada mande dan abak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan uda…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uda memang tak punya nyali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta yang meriah kemudian melenyapkan kisah cinta antara Marni dan Yusri, melenyapkan kisah cinta bunga larangan. Menjadi sebuah jawaban bagi mande dan abak bahwa hukum dan ketentuan adat tidak dapat ditentang dan ditawar, tak peduli apakah perkawinan dilandasi oleh cinta atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti kau juga akan mencintai Syukri, seiring waktu…” bujuk mande saat malam bainai. Waktu kemudian memang mengajarkan Marni untuk mencintai Syukri, menerima lelaki itu sebagai belahan hati kendati ada harapan dan hati yang lain tersakiti. Kehidupan mereka berjalan lurus meski terkadang ada riak-riak kecil yang menggoyang bahtera rumah tangganya. Kemampuan ekonomi Syukri yang tergolong mapan menambah kebahagiaan bagi Marni, terlebih setelah hadir dua orang anak perempuan yang mengingatkan dirinya saat kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasakan telah memenuhi tanggungjawabnya sebagai anak yang selalu patuh kepada mande dan abak, mengikuti kemauan mereka dan menghindari coreng yang barangkali akan terukir di wajah mereka karena melanggar pantangan dan aturan adat yang terkadang rumit dan sempit. Tapi cukupkah dengan cinta memupuk mahligai perkawinan jika dalam rentang waktu yang bergulir kemudian ada dusta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini ia merasakan ada yang tidak beres dengan suaminya, tidak seperti biasanya, lelaki itu sudah sering terlambat pulang dengan berbagai alasan, kadang dalam keadaan setengah mabuk, sering marah tanpa sebab (kadang mulai main tangan). Marni juga sering mendapati sms-sms mesra dari berbagai nomor yang disamarkan dengan nama laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marni mulai mencemaskan hal-hal yang tak diinginkan. Apakah suaminya mulai main serong? Apakah suaminya seorang gay? atau biseksual? Tidak suaminya lelaki normal, pernah Marni mencoba menelepon nomor-nomor yang berisi sms mesra dari nomor yang disamarkan dengan nama laki-laki itu, tetapi yang mengangkat semuanya suara perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi semakin runyam setelah Marni menanyakan perihal perempuan yang mengangkat telepon itu pada suaminya. Pertengkaran kecil kemudian meletupkan bara-bara di hati mereka. Melukai perasaan dan meruntuhkan cinta yang perlahan-lahan dibangun oleh Marni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marni kemudian semakin yakin bahwa ada wanita lain yang hadir diantara mereka ketika dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan suaminya membawa seorang wanita muda ke klinik dokter kandungan. Apakah suaminya telah menghamili perempuan itu? Sampai di sini Marni telah mencapai titik didih, telah mencapai batas kesabaran sebagai seorang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…”, Marni mendesah panjang lagi. Sebuah panggilan masuk di ponsel Marni, membuyarkan lamunannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok lama kali ma? katanya cuma beli kado?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya sayang, sebentar lagi mama pulang, nih mama udah beli kadonya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marni kembali ingat tadi ia berjanji pada anak bungsunya untuk membeli kado ulang tahun. Tak terasa anak itu sudah menginjak usia tujuh tahun, dan bulan depan akan memasuki bangku sekolah. Sedangkan kakaknya telah duduk di kelas dua SD.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusri melirik Marni, menatap dalam-dalam perempuan itu. Matanya, bibirnya, hidungnya masih seperti dulu, meskipun dihiasi garis-garis yang menyiratkan beban batin tapi Yusri masih tetap menyimpan kekaguman terhadap wajah itu, menyimpan kerinduan itu. Mata mereka bertemu, seperti mengalirkan sungai dan riaknya yang berkecipak di bebatuan. Ada pengharapan yang ditemui Yusri pada kelopak mata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya uda takut membawamu lari adinda. Ah, tak mampu Yusri menatap mata itu terlalu lama, ada perasaan yang menusuk hatinya, meski harus membalut luka itu dan mengikhlaskan bunga kasihnya itu disunting orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali itu lebih baik buat kita dan orang tua, dinda…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh uda pengecut!” terngiang kembali ucapan itu ditelinganya. Terasa perih menyayat relung hatinya yang rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hari-hari Yusri seperti putaran waktu yang hampa, menggelinding berpacu dengan detak dan detik menyusuri musim dan liukan angin. Sebenarnya tak ingin Yusri membuka kembali harapan itu, terlebih lagi ia sudah dapat memahami bahwa adat telah menciptakan batasan-batasan dengan berbagai pertimbangan, memahami bahwa adat telah mengukur dan mengatur perkawinan dengan berbagai kearifan, meskipun itu mengorbankan setengah perasaannya. Kini dengan goyahnya mahligai rumah tangga Marni, apakah ia akan memanfaatkan kesempatan itu? Merebut kembali kenangan silam yang membuat dirinya sanggup untuk tidak pernah jatuh cinta lagi? membuatnya sanggup untuk menjadi lelaki bujangan sepanjang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusri menghempaskan asap rokoknya lagi, asapnya berpendar dan memudar lewat angin yang menelusup dari sela-sela ventilasi. Barangkali asap rokok itulah cinta sejati bagi Yusri. Menemaninya mengembara jauh menelusuri sungai dan laut, menjelajahi gunung, hutan dan lembah. Membingkai kota-kota dan kampung-kampung dalam figura, memotret berbagai wajah dan peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih saja bermain dengan pikiran sendiri, Yusri mengalihkan pandangan ke luar jendela, sepasang kekasih bergandengan tangan menyusuri jalanan yang mulai lengang disiram cahaya lampu mercuri. Malam kian muram dalam balutan sepi, mereka masih saja membisu menikmati aliran musik penutup yang melantun lembut di kafe itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf tuan, nyonya kami sudah harus tutup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…ya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjalan sejajar dengan agak terburu-buru. Haruskah aku melanjutkan rencana ini? Batin Marni. Ia kembali ingat janjinya pada si bungsu yang berulang tahun hari ini. Tentu bocah itu sudah kelelahan menunggu, menanti kehadiran Marni dengan membawa kado boneka winnie the pooh yang selalu diimpikannya. Mungkin juga bocah itu sudah terlelap dalam pelukan Mak Inah, pembantunya, menanti Marni yang tak kunjung pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus melangkah, kali ini sudah memasuki lobby sebuah hotel. Haruskah aku mengkhianati suami dan anak-anakku?, Ah… ini bukan pengkhianatan, bukankah lelaki itu yang lebih dulu mengkhianatiku? perasaan itu terus berkecamuk di kepala Marni. Mereka terus melangkah menyusuri kamar-kamar yang berjejer seperti gerbong kereta. Langkah mereka makin rapat pada kamar yang dituju. Malam terasa panas, suasana sepi, sepi sekali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun berselang. Sebuah petang di rumah gadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mande menatap jauh ke halaman mengenggam selembar surat dari tanah seberang. Seperti sebuah simalakama. Hatinya perih dan tak menentu. Matanya menatap anak-anak yang bermain di halaman. Ia seperti menemukan Marni kecil disana bermain tanpa lelah seharian, juga menemukan Yusri kecil disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seandainya mereka tidak sepasukuan sudah tentu aku sangat merestui hubungan mereka, batin mande. Tapi saat ini masihkan mande kukuh untuk tetap tidak merestui mereka? Abak keluar dari kamar dengan batuk yang berdengkang, badannya sudah membungkuk jalannya tertatih-tatih menyisakan bunyi lantai rumah gadang yang sudah lapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi yang diinginkan anak tak tahu diuntung itu?” umpat abak, nafasnya tersengal-sengal. “dasar anak durhaka…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak baik mengumpat anak terus tuan…” mande melipat surat, ia menyeka matanya. Ada yang hendak tumpah dari kelopak matanya yang keriput. Disusunnya kembali ingatan tentang Marni, tentang tahun-tahun tanpa kepulangan, tahun-tahun tanpa ceria cucu-cucunya yang lucu. Ingin rasanya ia melabuhkan kerinduannya pada Marni, menjelang tanah rantau, tapi selalu tak ada restu dari abak. Lelaki itu terlalu keras untuk dilunakkan. Baginya tak ada lagi Marni, tak ada lagi anak perempuan yang dulu dibanggakan. Anak itu telah mencoreng aib di wajahnya. “tak ada maaf, meskipun badan ini berkalang tanah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Marni, mande… mungkin inilah sebuah pilihan. Biarlah badan terbuang dari adat, terbuang dari ranah mande selamanya. Biarlah Marni telan buah yang pahit ini. Hidup terkadang harus juga memilih mande.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mande beranjak, menggeser tubuhnya yang hampir layu. Ia berwudhu, azan ashar telah lama lewat. Selesai sholat ia panjatkan do’a. airmatanya tumpah…***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki  : Suami&lt;br /&gt;Sepasukuan : Satu suku (berdasarkan garis keturunan ibu)&lt;br /&gt;Uda : Panggilan untuk laki-laki yang dituakan&lt;br /&gt;Mande : Ibunda&lt;br /&gt;Abak : Ayah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-5276145881624487715?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/5276145881624487715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/11/bunga-larangan-mereka-dipertemukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/5276145881624487715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/5276145881624487715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/11/bunga-larangan-mereka-dipertemukan.html' title='Bunga Larangan'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-1645069815283706145</id><published>2008-09-30T11:20:00.000+07:00</published><updated>2008-09-30T11:21:47.812+07:00</updated><title type='text'>sajak bisu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Perjalanan Subuh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;: reformasi celana dalam&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;p&gt; aku terbangun pada sebuah subuh yang gigil&lt;br /&gt;menemui diriku meyusuri lorong-lorong panjang dan sepi&lt;br /&gt;memungut sisa cahaya bintang yang tinggal satu dua&lt;br /&gt;aku sebenarnya gamang membaca hari-hari&lt;br /&gt;gamang akan perutku yang keroncongan&lt;br /&gt;atau teriakan kelaparan dari sudut-sudut jalan&lt;br /&gt;kuhirup udara yang sebentar lagi penuh candu&lt;br /&gt;dan kuseduh air dari kebun embun &lt;/p&gt; &lt;p&gt; lalu,&lt;br /&gt;aku tertegun pada pertemuan siang-malam&lt;br /&gt;ketika oplet tua dengan suara klakson merintih&lt;br /&gt;suara penjual roti menjajakan sisa kemarin&lt;br /&gt;atau rengekan bocah-bocah mandi pagi &lt;/p&gt; &lt;p&gt; aku ingat anakku,&lt;br /&gt;bukankah ini hari pertama baginya untuk sekolah?&lt;br /&gt;ah, seragam untuknya belum sanggup kubeli&lt;br /&gt;belum lagi buku, pensil, sepatu, tas baru, kaus kaki dan jam tangan&lt;br /&gt;"jam tangan?" tanyaku dengan kening yang berlipat&lt;br /&gt;"iya ayah agar aku tak menyia-nyiakan umur" katanya &lt;/p&gt; &lt;p&gt; setiap langkah kupasang tanda&lt;br /&gt;agar tak tersesat saat kembali&lt;br /&gt;apalagi perjalanan masih terasa jauh&lt;br /&gt;belum lagi kadang cuaca tak tentu arah&lt;br /&gt;musim seperti menertawakan&lt;br /&gt;kadang badai, kadang kemarau, kadang banjir &lt;/p&gt; &lt;p&gt; ah, banjir&lt;br /&gt;aku ingat kemarin banyak bantuan sembako yang salah alamat&lt;br /&gt;dengan balutan bendera parpol dan gambar-gambar pejabat &lt;/p&gt; &lt;p&gt; matahari telah mengurut ubun-ubunku&lt;br /&gt;kemacetan mulai menghadang perjalanan&lt;br /&gt;apalagi lampu merah cuma jadi hiasan&lt;br /&gt;pada kota yang makin jangkung dan angkuh ini  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; anak-anak penjaja koran berhamburan&lt;br /&gt;"ada razia, ocu" katanya padaku dengan nafas yang ngos-ngosan &lt;/p&gt; &lt;p&gt; aku lelah,&lt;br /&gt;istirahatlah dulu sebentar, aku bergumam pada diri sendiri&lt;br /&gt;bukankah saat tak ada lagi yang mau mendengar&lt;br /&gt;masih ada hati tempat menimang pendapat? &lt;/p&gt; &lt;p&gt; di bawah pohon rimbun,&lt;br /&gt;di pinggir jalan aku menyandarkan tubuh&lt;br /&gt;melepas penat dan mengendurkan urat-urat&lt;br /&gt;mematut baliho raksasa gambar calon gubernur&lt;br /&gt;atau gambar iklan sampo dengan model perempuan setengah telanjang&lt;br /&gt;aku ingat cita-cita anakku : mau menjadi hakim&lt;br /&gt;ah, mampukah hukum dan keadilan tegak di negeri ini?&lt;br /&gt;bukankah hukum hanya sepotong roti,&lt;br /&gt;dapat ditawar dan dibagi-bagi? &lt;/p&gt; &lt;p&gt; tak terasa angin siang membelai&lt;br /&gt;hingga aku lelap bermimpi&lt;br /&gt;sampai tangan petugas pamong praja&lt;br /&gt;mencekal leherku&lt;br /&gt;"bangsat kau gelandangan" umpatnya.*** &lt;/p&gt; &lt;p&gt; rantau dalam gerimis, 28042008 &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;p&gt;   &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Negeriku Berwarna Kelabu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span&gt; asap dan mantra mantra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah dan hapalan bisu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Negeriku negerimu dan negeri ibu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sepanjang pantai yang berbibir burai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang bukit dan betisnya berjuntai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba asap menyelimuti negerimu ibu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span&gt; bangkai dan aroma burung hangus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: right; font-family: georgia;" class="MsoNormal" align="left"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;span&gt; kelabu, 120108&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: right; font-family: georgia;" class="MsoNormal" align="right"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: right; font-family: georgia;" class="MsoNormal" align="right"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: right; font-family: georgia;" class="MsoNormal" align="right"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Resah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku berjalan tanpa suara&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mencari makna pada sebuah pencarian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Gelisah dalam pertemuan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dan perpisahan yang kita buat sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; ada air mata yang mengering di ujung senja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan isak yang masih tersisa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ku merindui malam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yang kita bagi tanpa ada prasangka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan benih dusta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;aku terus melangkah tanpa suara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; mencari sisasisa riwayat makna terlupa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ada reruntuhan yang menyisakan puing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan debudebu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ada api yang membakar api&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; serta racun menyergap dalam ingatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;aku ingin menyisakan tangis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; walau separuh sudah tumpah dalam mimpi buruk semalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; kita akan terus mencari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;atau kita yang didatangi?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;span&gt; dalam keresahan, 12-01-08&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-1645069815283706145?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/1645069815283706145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/09/sajak-bisu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/1645069815283706145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/1645069815283706145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/09/sajak-bisu.html' title='sajak bisu'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-7267221819458629374</id><published>2008-08-28T11:31:00.003+07:00</published><updated>2008-08-28T11:41:28.838+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Lampu Merah Berdarah&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik matahari menjilat ubun-ubun. Debu-debu beterbangan menggambarkan kerisauannya pada kota ini. Lalu lalang kendaraan nyaris tak pernah berhenti, mengalir seperti darah yang bersemayam di tubuh Parti. Kesempatan orang-orang menyeberang hanya ketika lampu merah menyala. Itu pula kesempatan bagi Parti mengais sedikit rejeki dari pengendara kendaraan untuk melangsungkan hidupnya. Ia harus pandai-pandai mengira-ngira kapan lampu hijau akan menyala, jika tidak sumpah serapah pengemudi akan didapatinya karena menghambat arus lalu lintas di persimpangan itu. Sumpah serapah seakan sudah menjadi tembang pilu di telinga Parti.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dua tahun belakangan Parti hidup di antara lalu lalang kendaraan. Asap hitam dari kenalpot kendaraan sudah menjadi nafas dalam kehidupannya. Bising deru jalanan dan kelakson kendaraan seakan menjadi lagu kesepian dan kesedihan. Airmata sudah lama kering dan tidak berguna lagi merembes dari kelopak matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parti menggantungkan hidupnya di kota ini. Kota yang menurut orang-orang tempat yang menjanjikan berjuta harapan dan impian. Pusat-pusat perbelanjaan tumbuh subur seperti cendawan di musim hujan, setiap waktu ratusan petak ruko berdiri tidak terkendali berjejer dan bersusun seperti gerbong-gerbong kereta api yang siap diberangkatkan. Hotel-hotel dan perumahan mewah silih berganti dibangun. Jalanan dalam kota terus diaspal mulus setiap tahunnya, taman-taman kota setiap saat diubah wujudnya seperti menyolek gadis calon penganten, sementara di pinggiran lihatlah! Masyarakat hidup berkubang lumpur atau hidup di bantaran sungai yang sudah tidak bersahabat lagi. Limbah industri, sampah-sampah rumah tangga telah membunuh ekosistem sungai. Penggusuran dimana-mana dengan alasan mereka merusak wajah kota yang sedang bersolek indah, orang-orang berontak, pedagang-pedagang kaki lima dihajar pentungan aparat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ribuan orang terus berdatangan ke kota ini. Berdatangan seperti lebah, Menambah sesak populasi dan menimbulkan kerawanan sosial. Perampokan, pembunuhan, jambret, pemerkosaan, prostitusi, perjudian mulai dari kelas kampung hingga kelas elite menghiasi halaman surat kabar. Parti tidak punya pilihan lain selain bertahan dalam kondisi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parti ingat, lima tahun yang lalu. Sukijo. Banyak jejaka kampung yang menaruh hati pada Parti tersebab ia adalah primadona di kampungnya, tapi semua tak mampu merubuhkan cinta Parti pada Sukijo. Ya Sukijo lelaki kota, lelaki kampung yang sudah menjadi lelaki kota. Setiap kepulangan Sukijo ke kampung itu selalu menjadi debaran bagi gadis-gadis kampung. Sukijo sangat ahli menebarkan racun cintanya kepada semua gadis. Kota telah mengajarkan ia dengan keahlian itu. Gadis-gadis berebut memakan umpan cinta Sukijo. Parti terperdaya ia memakan umpan itu. Ia telah diracuni oleh cintanya terhadap Sukijo. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Parti membayangkan dirinya menjadi permaisuri Sukijo. Membawa imajinasinya kepada gemerlap hidup di perantauan dengan lelaki pujaan hatinya, Sukijo. Parti telah menetapkan hatinya. Pilihan yang menurutnya adalah sebuah masa depan. Masa depan dengan kehidupan yang sangat indah.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yakin dengan pilihanmu…” tanya Tarmi suatu malam dibawah siraman rembulan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku sudah menetapkan pilihanku,” Parti tersenyum bangga. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah kamu bisa membuka sedikit matamu dan mencoba menyelidiki siapa Sukijo sebenarnya?” &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Maksud kamu apa?” Parti tidak senang. Ia tidak rela Sukijo dicurigai oleh sahabatnya itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Maksudku lebih baik kamu menyadari dari sekarang ketimbang belakangan hari” &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Dengar ya Tar, aku tahu kamu cemburu, aku tahu kamu juga menaruh hati pada Mas Kijo” Parti naik darah sahabatnya makin menyudutkan Sukijo di hadapannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku pernah menaruh hati padanya, pernah termakan rayuan gombalnya itu, tapi…” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Cukup! Jangan kau teruskan kata-katamu itu, aku muak kau terus menyudutkan mas Kijo” Parti beranjak, hatinya luka dengan kata-kata sahabatnya itu. pilihan sudah ditentukan dan tidak bisa ditentang lagi, bahkan oleh orangtuannya sendiri. Parti tetap ngotot ingin kawin dengan Sukijo dan segera boyongan ke tanah rantau di seberang pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya berlabuhlah Parti di kota ini. Seberang pulau. Setumpuk angan-angan Parti bersandar seiring kapal yang menyandarkan badannya di tepi dermaga. Mimpinya tertanam serupa jangkar yang ditanam ke perut pelabuhan. Parti membayangkan dirinya dalam gemerlap siang malam, hiruk pikuk kota yang tak pernah lelah. Malam terasa singgah sejenak di kota ini. Jalanan bertabur cahaya. Tidak seperti di kampung Parti, malam ibarat kematian, sunyi senyap, tak ada yang namanya taman hiburan, pub, karaoke, jalan-jalan ke Mal atau nonoton di bioskop super moderen. Yang ada hanya kentungan peronda atau sesekali pagelaran wayang semalam suntuk. Pada malam terakhir ramadahan baru kampungnya agak ramai. Biasanya orang-orang pada mudik dari rantau. Menjenguk sanak saudara sambil silaturahmi, indahnya Idul Fitri. Tetapi setelah lebaran berlalu berangsur-angsur orang kembali ke rantau. Tinggal kampung kecil itu dalam kebisuan dan kesunyiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kebanggan dan harapan yang telah dibangun Parti perlahan-lahan digerus oleh kejamnya kota ini. Bualan Sukijo tentang kesuksesannya di rantau hanya pemanis racun cintanya. Tak ada rumah yang besar dengan halaman yang dipenuhi bunga-bunga yang indah. Di kota ini Sukijo hanya menempati sebuah rumah kecil di bantaran sungai yang penuh lumpur, tak terawat dan terasing. Tak ada profesi Sukijo sebagai kontraktor di kota ini sebagaimana yang di sampaikannya kepada Parti waktu itu. Di kota ini Sukijo hanya kerja serabutan. Kadang jadi kuli bangunan kadang kuli pelabuhan, kadang sampai tidak bekerja hingga tiga mingguan lebih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Hambarlah hati Parti. Ia sangat muak dengan segala kebohongan itu. Tapi apa yang hendak dikata semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Berhari-hari Parti hanya menangis dan meratapi kebodohannya. Kelakuan Sukijo makin merunyamkan kehidupan Parti. Setiap gajian setengahnya dihabiskan Sukijo di meja judi dan mabuk-mabukan. Cincin yang pernah diberikan Sukjio tempo hari saat menjerat cintanya ternyata gadaian lawannya berjudi. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Berbulan-bulan setelah itu Sukijo mulai jarang pulang. Kalaupun pulang hanya melampiaskan kejantanannya. Dengan meninggalkan beberapa potong pakaian kotor dan sedikit uang ia pergi lagi. Beberapa hari setelah kepulangan terakhir polisi mendatangi rumah mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Kami harap ibu bisa bekerjasama dengan kami.” &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini saya sendiri tidak mengetahui keberadaan suami saya, seminggu yang lalu ia terakhir pulang, itupun hanya semalam.” Mata Parti basah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Baiklah, segera kabari kami bila ia pulang. Jika tidak ibu bisa kami jerat dengan hukum karena melindungi pelarian penjahat” ancam polisi. Mereka berlalu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Selepas itu hari-hari Parti hanya airmata. Sukijo kini berstatus buronan. Ia terlibat dalam berbagai tindak kejahatan. Namanya mulai tenar, sering tampil di halaman koran kriminal. Aksi Sukijo dan komplotannya terkenal nekat dan sadis. Mereka tak segan-segan menghabisi nyawa korbannya bila sudah kepepet. Terakhir mereka mencoba merampok sebuah bank sebelum akhirnya digagalkan oleh polisi. Seorang satpam tewas tertembak saat kejadian. Beberapa orang anak buahnya tertangkap. Dari situlah polisi menelusuri jejak Sukijo. Tetapi ia cukup lihai dan licin. Polisi belum dapat meringkusnya, ia berhasil meloloskan diri saat terjadi penggerbekan di markas komplotan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit menabur cahaya. Bulan tampak berseri. Daun-daun kering bergemerisik karena diinjak. Seseorang megendap-endap di samping rumah Parti. Diketuknya jendela kamar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Parti…parti….” Orang itu berbisik memanggil. Parti tersentak dari tidurnya, ia dicekam ketakutan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Parti…parti….” Suara itu memanggil lagi sambil mengetuk daun jendela. Samar-samar Parti mengenal suara itu. Ia memberanikan diri membuka jendela.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Mas Kijo!!!?” ia berteriak setengah kaget.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Sstt… jangan keras-keras” Sukijo meletakkan telunjuk di mulutnya. “bukakan pintu cepat”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Parti bergegas membuka pintu belakang. “apa yang terjadi mas, mengapa kamu dicari polisi?”&lt;br /&gt;Sukijo diam saja. Diambilnya kursi untuk naik ke atas loteng. Tangannya menggapai meraih sebuah bungkusan. Ia memeriksa isi bungkusan itu. Sebuah pistol dan beberapa butir peluru. Buru-buru dibungkusnya kembali benda itu sebelum Parti sempat melihat. Ia selipkan dipinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Aku tidak bisa berlama-lama, aku harus segera pergi” Sukijo melangkah ke kamar, mengganti pakaiannya. Sudah tiga hari pakaian itu melekat di tubuhnya. Aromanya menguap.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Jangan pergi mas, jangan tinggalkan aku” parti menarik tangan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sukijo berusaha melepaskan pegangan isterinya. Parti menggengam lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Aku mohon lepaskan aku Parti, polisi masih berkeliaran mencariku. Aku tak punya pilihan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Aku harus pergi…” Sukijo tak kuasa membentakkan pegangan tangan isterinya, ia memohon sangat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Aku masih bisa memaafkan segala kebohonganmu selama ini mas, tapi aku tak akan memaafkanmu bila meninggalkanku seperti ini” genggaman Parti terlepas. Tubuhnya terguncang menahan isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukijo tertunduk lesu di kursi rotan yang mulai rapuh. Ia bimbang saat ini. Pilihannya ada dua, tetap disitu sampai polisi datang meringkusnya dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di balik terali, atau kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar terdengar derap langkah diiringi suara orang berbicara. Sukijo langsung waspada mengintip dari jendela. Ketakutan mengajarkan ia selalu waspada. Makin lama suara itu makin mendekat. Ketiga orang itu membawa senter dan pentungan kayu. Sukijo memastikan mereka hanyalah warga yang sedang ronda, ia tetap waspada. Orang-orang itu agak lama berdiri di depan rumahnya. Mereka mengarahkan senter ke semak-semak samping rumah itu. Sukijo memberi tanda kepada Parti untuk tidak bersuara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Setelah memastikan situasi, ketiga orang itu berlalu. Sukijo menarik nafas dalam-dalam. Parti masih terisak-isak di sudut ruangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sukijo masuk lagi ke dalam kamar. Ketika keluar ia sudah menyarungkan jaket kulit yang lusuh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Maafkan aku Parti, aku harus segera pergi.” Dipeluknya Parti agak lama, diciumnya kening Parti. Inilah kali pertama Sukijo bersikap lembut kepada Parti setelah malam-malam pertamanya dulu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sukijo keluar lewat pintu belakang, sebentar saja ia sudah lenyap dalam kegelapan malam, hanya daum-daun yang bergoyang menemani pelariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu adalah malam terakhir Parti bertemu dengan Sukijo. Sejak saat itu Sukijo tak pernah kembali dan menghilang tanpa jejak dari kehidupan Parti. Perhatian polisi mulai berkurang terhadap kasus Sukijo, barangkali karena tidak ada lagi aksi kejahatan yang dilakukannya. Perlahan nama Sukijo tak lagi menghiasi halaman koran kriminal, tetapi ia tetap target utama daftar pencarian orang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Parti mulai membiasakan hidup sendiri. Ia sadar tak ada lagi tempat bergantung di kota ini. Tak ada lagi angan-angan yang pernah ia sandarkan di pelabuhan kota ini. Tak ada lagi mimpi bagi Parti karena untuk bermimpi saja ia sudah sangat takut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ia kini berjualangan asongan di perempatan lampu merah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk pulang kampung ia tak berani, teramat pahit baginya untuk kembali ke pangkuan orangtuanya setelah pemberontakan yang mengurai airmata ibu bapaknya. Saat itu ia telah buta dan dibutakan cinta Sukijo. Ia ingat omongan Tarmi yang pernah menasehatinya. Tapi Parti teramat keras, sekeras batu. Sekeras itupulakah cintanya untuk sang pujaan hatinya? Sukijo. Mengenang nama itu ia sangat terluka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Banyak godaan yang datang menghampiri Parti. Selain masih muda dan cantik, Parti memiliki kemolekan tubuh yang mengundang kumbang-kumbang liar. Ada yang teranga-terangan ingin mempersuntingnya, lain waktu adapula mami-mami yang menawarkan materi yang berlimpah kepada Parti bila mau menjadi anak buahnya. Parti tidak menanggapi semua godaan itu, ia teramat kukuh dengan harga dirinya. Ia merasa masih menjadi milik Sukijo, meskipun ia tidak tahu apakah lelaki itu masih hidup atau telah mati. Dalam hatinya Pari masih mengharapkan kepulangan Sukijo. Kepulangan yang entah bagaimanapun bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Di jalananpun seperti itu. Meski dibalut penampilan kumuh orang-orang pinggiran, tapi mereka masih bisa menangkap pesona kecantikan Parti. Tanpa basa basi pengendara yang gatal sering menawarkan kepada Parti untuk diajak short time. Kalau sudah begitu Parti buru-buru saja menghindar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sebenarnya Parti berharap sekiranya ada dari sekian banyak orang-orang yang lalu lalang di perempatan ini mau menjadikannya pembantu rumah tangga. Tapi sayang kejujuran dan kepercayaan sudah langka di kota ini. Orang-orang kaya tidak mau sembarangan mencari pembantu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit berubah mendung siang ini, awan berarak menggumpal hitam. Dagangan Parti belum berapa terjual, padahal arus lalu lintas cukup padat sejak tadi. Lampu merah menyala, Parti menyodorkan dagangannya berebutan, ia tidak sendirian. Ia harus bersaing dengan pedagang asongan lainnya, juga anak-anak penjual koran, pengemis dan pengamen. Di perempatan ini berpola three stop one go. Lampu hijau hanya menyala pada satu ruas jalan sedangkan di ruas jalan yang lain menyala lampu merah. Begitu terus sesuai dengan putaran arah jarum jam.&lt;br /&gt;Dua ratus meter dari tempat Parti berdiri, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak jauh di belakang sepeda motor itu, meluncur pula mobil patroli polisi. Bunyi sirine meraung-raung. Semua terpana melihat kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Perampokan-perampokan…” orang-orang berteriakan tapi tak satupun yang berani bertindak karena perampok itu mengacungkan senjata. Sepeda motor itu menerobos lampu merah. Parti yang sedang menyodorkan uang kembalian tidak menyadari peristiwa itu, karena berlangsung sangat cepat dan tiba-tiba. Malang bagi Parti sepeda motor itu menyerempet tubuhnya. Ia terpental dan terseret beberapa meter. Kepalanya bersimbah darah. Sementara kedua perampok terjungkal ke dalam parit sisi jalan. Tanpa ampun massa langsung menyerbu dan menghadiahi pukulan pada kedua perampok itu. Keduanya babak belur tak berbentuk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Bakar…bakar….” Teriak massa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Polisi yang dari tadi mengejar tak mampu mengendalikan massa yang banyak dan sudah beringas. Sebelum masssa sempat membakar, polisi menembakkan pistol ke udara. Massa bersurut. Polisi mengamankan kedua perampok. Sesekali ada juga yang mencuri menghadiahi pukulan ke kepala perampok itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Parti segera mendapat pertolongan. Polisi melarikan Parti ke rumah sakit. Sayang karena darah yang banyak keluar, nyawa Parti tidak dapat diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Langit semakin gelap. Gerimis mulai turun satu-satu. Tetes-tetes air mulai menghapus darah Parti yang tumpah dijalan itu. Menghapus semua duka dan derita Parti di kota ini. Esok, pagi-pagi sekali muncul berita di koran. “Sukijo buronan yang selama ini paling dicari diringkus setelah melakukan perampokan di sebuah Bank. Sayang, nyawa seorang wanita yang tidak dikenal menjadi tumbal penangkapan sukijo”.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 2006-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riau Mandiri 27 Jan 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-7267221819458629374?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/7267221819458629374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/lampu-merah-berdarah-terik-matahari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/7267221819458629374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/7267221819458629374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/lampu-merah-berdarah-terik-matahari.html' title='Cerpen'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-8693677188582105443</id><published>2008-08-25T20:12:00.001+07:00</published><updated>2008-08-25T20:13:17.959+07:00</updated><title type='text'>JIKA TUBUHMU ADALAH, DAN AROMA ITU</title><content type='html'>Jika tubuhmu adalah pulau&lt;br /&gt;Sudikah hatimu kujadikan pelabuhan&lt;br /&gt;Tempat kita menanti senja&lt;br /&gt;Biarkan siluet tubuh kita&lt;br /&gt;Sama-sama telanjang&lt;br /&gt;Hmm, aroma rambutmu&lt;br /&gt;Sudikah untuk kuhirup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tapi cinta adalah kecemasan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika tubuhmu adalah malam&lt;br /&gt;sudikah hatimu kujadikan suluh&lt;br /&gt;tempat kita menanti subuh&lt;br /&gt;biarkan embun membasuh&lt;br /&gt;persetubuhan kita yang rapuh&lt;br /&gt;hmm, aroma tubuhmu&lt;br /&gt;mengingatkan aku pada adam yang khilaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bukankah cinta juga kegelisahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tubuhmu adalah puisi&lt;br /&gt;Sudikah hatimu kujadikan intonasi&lt;br /&gt;Tempat kita merintih&lt;br /&gt;Biarkan suara kita lirih&lt;br /&gt;Menyanyat kenangan yang perih&lt;br /&gt;Hmm, linangan air di matamu&lt;br /&gt;Mengingatkan aku tentang umur kita yang senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“meskipun cinta kita tak terkarang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tubuhmu adalah pelangi&lt;br /&gt;Sudikah hatimu kujadikan sunyi&lt;br /&gt;Tempat kita memaknai bunyi&lt;br /&gt;Bukankah kehidupan dijalin mimpi&lt;br /&gt;Hmm, aroma tubuhmu&lt;br /&gt;Sudikah kubangun istana diatasnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“terkadang cinta memang meradang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tubuhmu adalah tubuh itu&lt;br /&gt;Sudikah hatimu kujadikan hati itu&lt;br /&gt;Tempat kita menaruh cinta&lt;br /&gt;Biarkan segala peristiwa merangkai cerita&lt;br /&gt;Hmm, aroma tubuhmu&lt;br /&gt;Aroma tubuh itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Juli 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-8693677188582105443?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/8693677188582105443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/jika-tubuhmu-adalah-dan-aroma-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/8693677188582105443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/8693677188582105443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/jika-tubuhmu-adalah-dan-aroma-itu.html' title='JIKA TUBUHMU ADALAH, DAN AROMA ITU'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-9008270224296204295</id><published>2008-08-15T10:24:00.001+07:00</published><updated>2008-08-15T10:26:20.216+07:00</updated><title type='text'>Bakti Tak Pernah Sudah</title><content type='html'>seperti musim yang gundah&lt;br /&gt;deretan angka dan hujan luruh&lt;br /&gt;seperti waktu itu,&lt;br /&gt;kemarau tak menjanjikan apa-apa&lt;br /&gt;selain aroma asap dan bangkai burung&lt;br /&gt;segenap sepi yang berpilin&lt;br /&gt;kita masih saja menyisakan tangis&lt;br /&gt;kanak-kanak kita pendam&lt;br /&gt;memelihara dendam terpasung&lt;br /&gt;kita kuyup oleh airmata&lt;br /&gt;tangan ibu yang keriput&lt;br /&gt;leher ayah yang mengerut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bakti ini tak pernah sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padamu ibu&lt;br /&gt;padamu ayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru Juni 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-9008270224296204295?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/9008270224296204295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/bakti-tak-pernah-sudah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/9008270224296204295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/9008270224296204295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/bakti-tak-pernah-sudah.html' title='Bakti Tak Pernah Sudah'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-1592815696329114183</id><published>2008-08-15T10:21:00.000+07:00</published><updated>2008-08-15T10:23:25.572+07:00</updated><title type='text'>Sembilu Ibu</title><content type='html'>Dikedalaman waktu, aku sembilu&lt;br /&gt;Yang menggurat sebongkah salju&lt;br /&gt;Pada putih hatimu ibu&lt;br /&gt;Setiap keberangkatan adalah ragu&lt;br /&gt;Setiap kedatangan adalah gagu&lt;br /&gt;gumam menggulung diriku dalam kecemasanmengintai lekuk nafas&lt;br /&gt;yang tak habis menghisap darahku dalam darahmu&lt;br /&gt;aku adalah sembilu ibu&lt;br /&gt;adalah sembilu itu ibu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Juli 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-1592815696329114183?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/1592815696329114183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/sembilu-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/1592815696329114183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/1592815696329114183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/sembilu-ibu.html' title='Sembilu Ibu'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-6333679725981288763</id><published>2008-08-10T11:14:00.000+07:00</published><updated>2008-08-10T11:16:03.586+07:00</updated><title type='text'>Mozaik Kelahiran</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt; R.A. Daffa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai perjalan tanpa peta di kota utara setelah hari hari panjang menatah langkah dan meniti jejak garis yang kabur dibasuh kabut&lt;br /&gt;menanam benih di ranjang waktu menyabit ilalang ranggas di padang musim&lt;br /&gt;monolog cinta dan desau angin&lt;br /&gt;ingatkan jejak tentang kepulangan&lt;br /&gt;perjalanan tak berujung di sini&lt;br /&gt;ikuti liukan daun dan tuju sarang burung merpati&lt;br /&gt;teruskan catatan yang belum selesai ini, karena nanti kita bersua dalam sebuah kitab&lt;br /&gt;biarkan riwayat menjadi firman yang mungkin melahirkan ribuan terjemahan&lt;br /&gt;melahirkan ribuan tafsir&lt;br /&gt;pecahkan lampu-lampu&lt;br /&gt;agar gelap mengajarkan kita bersemedi,&lt;br /&gt;agar hitam mengajarkan kita mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai perjalanan di kota utara&lt;br /&gt;tanpa peta dan kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;monolog rindu, rumah yang beku&lt;br /&gt;satu persatu angka-angka yang luruh&lt;br /&gt;mengingatkan gerimis yang mendendangkan suara ibu&lt;br /&gt;mengaramkan perahu, menghanyutkan kayu-kayu&lt;br /&gt;menghempaskan daun pintu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hidup adalah berkejaran dari segala pelarian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana kita nak suakan kerinduan?&lt;br /&gt;sementara bising melumatkan tubuh dalam aroma pesing dan wajah asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tumpah juga airmata di kota utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;monolog bisu, arah yang ragu&lt;br /&gt;ketika musafir hilang di persimpangan kalimat&lt;br /&gt;sudikah sajak menjelma kompas, tak sebatas imajinasi dari lautan kata-kata basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di selembar koran usang, sisa pembungkus gorengan, tak putus berita-berita menyeramkan&lt;br /&gt;“uh… perih rindu tak terpejam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratap ku ratap  si malin kundang&lt;br /&gt;“mak telanlah sumpah itu”***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Juli 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-6333679725981288763?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/6333679725981288763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/mozaik-kelahiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/6333679725981288763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/6333679725981288763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/08/mozaik-kelahiran.html' title='Mozaik Kelahiran'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-8214520480465952710</id><published>2008-07-13T14:36:00.003+07:00</published><updated>2008-08-10T11:17:29.869+07:00</updated><title type='text'>Telaga Dalam Hatimu</title><content type='html'>: Bunda Daffa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah aku ikan di telaga hatimu, ketika cinta tak kunjung bertaut renangi jernih muara tempat musim berciuman. Angin yang meliukkan rumpun bambu, asap dari unggun jerami lembab. Kenang jugalah janji yang pernah kita tautkan meskipun badai dan gemuruh lumatkan diriku dalam senggama waktu yang ragu. Lumatlah diriku dalam-dalam, mungkin kembara ini tak kunjung selesai. Mungkin diriku adalah larungan sajak dalam lautan kata-kata yang tak sempat kuberi nama, mungkin saja muram. Tapi sudah usangkah kitab yang sempat kita beli di loakan saat gerimis telah memenjarakan waktu kita dititik itu?, terus sajalah kau berjalan susuri pesisir yang basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah sudah kau menangis, seperti hujan yang tak kunjung reda di ujung kota. Rajutlah debu-debu dan pintal lamunanmu karena senja semakin padam. Jika kau gelap bisikanlah namaku menjadi suluh, ketika kata-kata yang pernah kueja menggigilkan tubuhmu, kenanglah manis liurku menjadi anggur untuk menghangatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah sudah kau menyepi, musim telah mengajarkan kita tertawa. Masihkah kau simpan lukisan hati dan bibir yang retak tempat sebuah janji pernah kita tanam, lalu berbuah menjadi airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kota kita dipenuhi baliho, kita saksikan wajah kita ada disana bersama catatan-catatan yang pernah kita gores. Tapi kau lupa sepatah kata yang pernah kau simpan di dalam dompet. Benarkah kau simpan atau kau curi dari lemari pakaian kita yang usang? Kita dan kota kita pun semakin tua, istana-istana telah runtuh, janji-janji telah luruh, hati-hati telah keruh, sejarah menjadi musuh, kugandeng juga dirimu menghindari rusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota kita akhirnya menjadi abu, menyisakan puing dan jejak yang dalam. Bunyian hanya kenangan dan lagu-lagu adalah dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku belajar untuk menangis, menyulam airmata menjadi gerimis.Terasa asin serasa janji kita yang miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini akupun belajar menyepi, menghapal, menghayal dan menghanyutkan diriku bersama ingatan, bukankah wajahmu telah kusumpah menjadi perahu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-8214520480465952710?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/8214520480465952710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/07/jadikan-aku-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/8214520480465952710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/8214520480465952710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/07/jadikan-aku-ikan.html' title='Telaga Dalam Hatimu'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-5631795628664560339</id><published>2008-06-15T13:07:00.004+07:00</published><updated>2008-08-25T20:15:52.072+07:00</updated><title type='text'>Sajak-Sajak</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ADA MUSIM YANG HILANG DI KELOPAK MATA ANAKKU&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;*&lt;br /&gt;ada musim yang hilang di kelopak mata anakku&lt;br /&gt;kita adalah kaum yang menyulam sepi&lt;br /&gt;kupukupu adalah ibumu&lt;br /&gt;ia punya kepak sayap yang indah&lt;br /&gt;tempat kita menemukan jalan pulang&lt;br /&gt;meniti gerimis dan pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika dirimu lelah anakku&lt;br /&gt;sapalah matahari yang setia di balik ransel hijaumu&lt;br /&gt;tawarkan kepadanya serpihan senyum&lt;br /&gt;yang pernah aku ukir di pipimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan kau hujamkan dengus nafasmu pada bebatuan&lt;br /&gt;yang berserakan di hadapanmu&lt;br /&gt;pungut dan taburkanlah pada sebuah pematang&lt;br /&gt;yang telah kita sulam di bawah mendung&lt;br /&gt;ada keringat di dahimu itu adalah cahaya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bawalah cahaya itu anakku&lt;br /&gt;karena itu adalah warisan yang tersisa&lt;br /&gt;dari kita yang menyulam sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;musimmusim tetap hilang di kelopak mata anakku&lt;br /&gt;camar sumbang sudah pada amuk laut&lt;br /&gt;karang-karang meradang pada gelombang&lt;br /&gt;sementara kita tetap menyulam sepi&lt;br /&gt;kamu tahukan anakku, kemana mesti mengayuh?&lt;br /&gt;layar tak mungkin kita kembangkan lagi&lt;br /&gt;karena sudah kita sulam untuk jubah rajaraja&lt;br /&gt;ada darah di telapakmu, itu adalah cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagalah cahaya itu, anakku&lt;br /&gt;Karena itu adalah semangat yang tersisa&lt;br /&gt;dari batin yang menyulam sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;tetap saja musim hilang di kelopak mata anakku&lt;br /&gt;kita bermukim di atas abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 09122007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;GERHANA AIRMATA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;I&lt;br /&gt;ini hanyalah kegelisahan&lt;br /&gt;yang kutumpangkan pada angin&lt;br /&gt;dan hujan yang turun semalaman&lt;br /&gt;tak mungkin lagi air mata&lt;br /&gt;kuseduh untuk meredakan tangis bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh, perisitiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sujud lah sekalian sujud&lt;br /&gt;biar basah kening ini basah&lt;br /&gt;basahi juga bibir ini dengan kalimah&lt;br /&gt;panjangkanlah malam ini panjang&lt;br /&gt;sepanjang ayat-ayat untuk mengukur rindu&lt;br /&gt;agar terukir di kedalaman kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukankah azan esok subuh&lt;br /&gt;mampu melebur ingatan tentang&lt;br /&gt;perempuan yang pergi&lt;br /&gt;bersama mimpi dan impian&lt;br /&gt;ataupun kepasrahan yang ditinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;tak sulit rasanya aku menemukan rumahmu&lt;br /&gt;rasanya baru berapa musim kita merentang waktu&lt;br /&gt;meskipun ada perih yang kau rajam ke dalam lubuk hatiku&lt;br /&gt;di ruang kanak-kanak kita,&lt;br /&gt;kau seperti kupu-kupu ungu&lt;br /&gt;aku seperti gembala yang menemani siangmu yang riang&lt;br /&gt;bisa aku buatkan kau taman&lt;br /&gt;untuk bermain dirimu dan diriku serta anak-anak yang kelak&lt;br /&gt;kita semai di dalam rahimmu&lt;br /&gt;kuharap kau mau menaiki perahuku&lt;br /&gt;mengarungi danau puisi&lt;br /&gt;dengan riak-riak kata yang terkadang tajam&lt;br /&gt;untuk lidahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuharap kau tidak mengusirku&lt;br /&gt;karena aku datang bukan untuk menghanyutkan impianmu&lt;br /&gt;biarlah kau rajam hatiku dengan lidahmu yang tajam&lt;br /&gt;tapi jangan kau usir aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di teras rumahmu&lt;br /&gt;izinkan aku merangkai janur kuning dan tenda biru&lt;br /&gt;tanda bahwa ada seribu puisi yang belum sempat&lt;br /&gt;kubungkus untuk kado&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rantau gerimis, 28042008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Riau Mandiri, 15 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-5631795628664560339?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/5631795628664560339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/06/sajak-sajak_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/5631795628664560339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/5631795628664560339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/06/sajak-sajak_15.html' title='Sajak-Sajak'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7170273934558955399.post-6470668725876551205</id><published>2008-06-01T18:56:00.000+07:00</published><updated>2008-06-08T15:55:56.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arikel Umum'/><title type='text'>sajak-sajak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Pekanbaru hujan malam ini&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini kutumbuhkan dari negeri asap&lt;br /&gt;malam dingin tersapu gerimis yang berpacu seiring denyut nadi&lt;br /&gt;kunang kunang lelap dalam pelukan malam&lt;br /&gt;sembari membungkus sisa cahaya yang meredup&lt;br /&gt;mata liar perempuan mengintip di seberang jalan&lt;br /&gt;menatap di balik kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hei pejantan dekaplah igauanku ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meraba tubuhku ia,&lt;br /&gt;lewat genit tatapan dan gincu tebalnya&lt;br /&gt;berikut, meraba kemaluanku ia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aih…&lt;br /&gt;aku lupa padamu wanita&lt;br /&gt;kotaku telah menjebakmu dalam kegelisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(aku lihat matamu terus menelanjangiku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akupun menatap matamu&lt;br /&gt;yang mulai berkabut diantara&lt;br /&gt;pencakar langit yang merenggut masa lalu dan masa depan kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam dingin malam beku&lt;br /&gt;aku sendiri lelah memenjarakan tubuh&lt;br /&gt;dalam deretan kata kata yang rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau tahu wanita&lt;br /&gt;sebuah sajak telah kukubur sendiri&lt;br /&gt;karena telah berani memperkosa kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aih…&lt;br /&gt;haruskah kebenaran itu ditebus&lt;br /&gt;dengan desah nafasmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak jua surut nyalimu wanita&lt;br /&gt;pada kotaku yang telah menjelmakanmu pada kepalsuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam dingin, malam beku&lt;br /&gt;gerimis telah memenjarakan kami dalam gigil&lt;br /&gt;tapi tidak kotaku yang haus dengan desah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, maret 07&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:78%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:78%;color:#000000;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:78%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Renungan Musim-Musim&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;aku hampa, seperti deretan katakata luka&lt;br /&gt;syairpun lekang sudah pada irama dan aroma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hampa, menjaga puncak gunung di wajahmu&lt;br /&gt;angin meluruh pada musim yang hilang tanpa nama&lt;br /&gt;:entah berapa abad sudah&lt;br /&gt;sungai menjelma mimpi&lt;br /&gt;pada air yang lupa tempatnya bermain&lt;br /&gt;menghempas sampah sampah menjadi perahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita akan kembali pada musim yang suram&lt;br /&gt;meski matahari akan tetap datang&lt;br /&gt;padaku…&lt;br /&gt;padamu…&lt;br /&gt;dan pada musim itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;daun gugur, daun meluruh pada kelopak senja yang rebah&lt;br /&gt;di matamu kutemukan beribu luka&lt;br /&gt;menyayat hingga belati menancap di ujung mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musim ini kita harus segera pergi&lt;br /&gt;bersama anakanak panah yang lepas dari pelukan busur&lt;br /&gt;meski waktu tak kan pernah mempertemukan kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kaupun bunting&lt;br /&gt;serupa langit yang memuntahkan parade bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akupun pulang…&lt;br /&gt;pada muara yang pernah mengajarkan aku&lt;br /&gt;melukis wajahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;perawan dan pelangi lahir dan tumbuh diselasela gerimis&lt;br /&gt;sungaisungai leleh memuntahkan wajah sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu tahu sayang mengapa aku meninggalkan dirimu&lt;br /&gt;pada hari yang subuh ini, pada waktu yang lelah&lt;br /&gt;menitipkan kegetiran tak berujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu malampun pergi&lt;br /&gt;meninggalkan sisa rintihan pada ranjang embun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah kamu sayang&lt;br /&gt;jalanku dan jalanmu&lt;br /&gt;jalan yang lecah kita tempuh, jalan yang pernah menjebak kita&lt;br /&gt;pada rasa yang meluapkan hasrat rimba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu tahu sayang mengapa matahari tak kunjung&lt;br /&gt;menyinari wajah kita ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu siangpun lenyap dalam desau musim yang pilu&lt;br /&gt;meninggalkan sisa galau pada debudebu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah kamu sayang&lt;br /&gt;megapa hujan tak kunjung menyirami&lt;br /&gt;rongarongga wajah kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu pelangi tumbuh di wajahmu dan wajahku&lt;br /&gt;menabur pesona warna&lt;br /&gt;kitapun lenyap sayang dalam keindahan&lt;br /&gt;yang kita gamang untuk memaknainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;disini, pernah kutandai&lt;br /&gt;sebuah tanda untuk menandai&lt;br /&gt;mata angin yang mengantarkan pada esok&lt;br /&gt;tak pernah kutemui&lt;br /&gt;meski telah kutorehkan perjalanan&lt;br /&gt;dalam lembaranlembaran waktu&lt;br /&gt;haruskan aku lelah…?&lt;br /&gt;sementara kisah belum berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hatiku belum menjadi batu&lt;br /&gt;atau menjadi bunga layu diselasela batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bakti akan kulukis pada waktu yang tak kunjung mengupas sejarah&lt;br /&gt;diantara musimmusim yang datang dan pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah tanda akan tetap kutandai&lt;br /&gt;disini,&lt;br /&gt;ya, disini&lt;br /&gt;diantara musimmusim yang selalu berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri asap, maret-september 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:78%;color:#000000;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Kutemukan jalan pulang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;kutemui jalan pulang pada matamu yang lelah&lt;br /&gt;ketika matahari telah bangun dari mimpinya semalam&lt;br /&gt;ketika kita telah selesai menuntaskan perjalanan birahi yang melelahkan&lt;br /&gt;kita tumpahkan juga segenap rasa&lt;br /&gt;pada embun dan bisik jangkrik serta derikderik ranjang&lt;br /&gt;kita lukiskan pada dinding, gunung dan bebatuan di beranda depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah aku telah benarbenar menemui jalan itu&lt;br /&gt;sementara dendam ini tak pernah terselesaikan&lt;br /&gt;aku harus membunuh dendam&lt;br /&gt;untuk menuntaskan dendam itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;labirin sunyi tetap saja mengendap&lt;br /&gt;meski telah kubuka semua jendela dan pintu&lt;br /&gt;meski telah kubunuh semua dendam&lt;br /&gt;dan ku-kubur tanpa nisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;kotakota, pulaupulau&lt;br /&gt;tempat kami menjaring dan merajut harihari, mulai melupakan sejarahnya&lt;br /&gt;sungaisungai dan gelombang laut,&lt;br /&gt;menitipkan kesepiannya lewat tsunami dan musim amuk&lt;br /&gt;hutanhutan,&lt;br /&gt;telah rapuh dan melepuh menyisakan asap dan bangkai burung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orangorang hilang ditelan musim&lt;br /&gt;tanpa tahu kemana mereka membangun istana baru&lt;br /&gt;tempat melahirkan pangeran dengan sebilah pisau dipinggang&lt;br /&gt;dan sekepal api di wajahnya&lt;br /&gt;aku menyukai senja karena disitu semua bermuara&lt;br /&gt;tempat mengantarkan matahari kembali menemui para dewi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;aku lanjutkan segenap pengembaraan&lt;br /&gt;berlayar menuju muara dan dermaga yang berlumut&lt;br /&gt;melalui musim dan waktu yang menitipkan kisahkisah&lt;br /&gt;dan hikayat rajaraja yang dibunuh mahkotanya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya aku menemukan jalan pulang&lt;br /&gt;tempat rajaraja dan sajaksajak bermukim&lt;br /&gt;tempat  masa lalu dikubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri asap, sept ‘07&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7170273934558955399-6470668725876551205?l=azzumarnazif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/feeds/6470668725876551205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/06/sajak-sajak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/6470668725876551205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7170273934558955399/posts/default/6470668725876551205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azzumarnazif.blogspot.com/2008/06/sajak-sajak.html' title='sajak-sajak'/><author><name>Unggun Jerami Lembab</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01364912161046856905</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_2ZTGtcc9oAo/SEKENCBOwtI/AAAAAAAAAAg/LRkXicxMLIo/S220/IMG_1323b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
