merindukanmu... membawa ku kembali pada aroma asap jerami lembab, takkan mungkin ku mengeluh walaupun dingin tubuhmu seperti meyetubuhi tubuhku. masih saja kudengar lengkingan bunyi kereta meskipun rel2 kereta batubara telah lama jadi besi tua, meski rumah gadang hampir roboh menyisakan tubuhnya yang renta... dimanakah... kemudian kita bersua? mungkin saja di tengah kota yang kita asing mengeja namanya...
Baca Selengkapnya......Selasa, 12 Januari 2010
senjamu
apakah bijak jika dirimu melipat senja yang kemungkinan lewat, bukankah katamu senja tempat anak setan menyalin rupa...? sampai titik ini sungguh aku masih mencium aroma tubuhmu yang tak lain adalah aroma menyengat dari lumpur kering dan ilalang rangas di penghujung musim kemarau... sungguh aku masih belajar memahami p...erjalanan yang telah kau rancang ini, jika senja sebentar lagi lewat...
Baca Selengkapnya......Jumat, 28 November 2008
sajak
SENANDUNG GALAU BATANG KAMPAR
rakit-rakit kenangan batang kampar
bukankah itu yang selalu kau rindukan
sepanjang perjalanan tahun-tahun lampau
di tiang ujung jembatan inikah penantian itu,
… wahai gadi berkerudung merah
sejuta puisi akan kau labuhkan?
senyap yang menyelinap
bersama keping-keping kenangan yang hanyut
oy… karamkan saja sampan-sampan
sepanjang pesisir batang kampar
lenyapkan bersama riwayat datuk tabano
dan hisaplah daun-daun yang mabuk itu
-bukankah tanah kita ranah mimpi?-
mentaripun rebah seperti matamu
keping kenangan telah jauh hanyut
bersama kecemasan bernama adzan
inikah simbol kemajuan?
oy… gadi,
di tanah itu telah kubangun simbol serambi mekkah
seperti yang ada dalam mimpimu
berhentilah mengigau
*
kampung-kampung kenangan batang kampar
inikah yang tak pernah kau temukan
telah lama hilang ditelan bendungan
lenyap menyelinap serupa riwayat panglimo khotib
oy… gadi dimanakah arahmu kini
telah pulakah hanyut ditelan batang kampar?
“Untukmu gadi”
aku menunggu disini,
berharap gerimis menunjukkan jejak
merintang jarak
ku tunggu juga kepulanganmu di atas bukit cadika,
belailah rinduku yang ngilu
masihkah janjimu setajam sembilu
cepatlah kita tuntaskan
sebelum selesai ziarah ini
sebelum hujan menjelma badai
sebelum titik hujan yang masih berdenting di atap rumah
memenjarakan waktu di titik ini
“sudikah dirimu menanti pelangi?”
aku kian gamang
senandungkan batang kampar yang pasang
tebas saja rumpun-rumpun aur
biar runtuh tebing dan pematang
bukankah kita ingin menyaksikan
semua lipatan kenangan hilang ditelan gelombang
terus sajalah menyusuri
hikayat yang hanyut itu
serupa parade sampan hias balimau kasai
**
Bangkinang-Pekanbaru, Juli 2008
Bunga Larangan
Mereka dipertemukan kembali oleh waktu. mereka masih sama-sama membisu bermain dengan kerumitan masa lalu. Yusri telah menghabiskan berbatang-batang rokok, puntungnya tumpang tindih dalam asbak di hadapan mereka. Sementara Marni masih menatap keluar jendela. Matahari hampir redup. Ada embun yang meleleh di kaki gelas.
Yusri menoleh sejenak ke arah Marni, kemudian menghembuskan sisa asap dari hisapan terakhir. Ia tusukkan puntung rokoknya ke dalam asbak dan menyedot juice yang terasa hambar. Ia keluarkan kamera digital dari tasnya dan memotret langit yang samar-samar masih memendarkan sisa matahari. Sengaja Yusri memilih tempat itu, mengingatkan ia pada matahari yang selalu tenggelam di balik bukit ketika mereka melewatkan senja di tengah-tengah jembatan tua dan menyaksikan perahu-perahu yang mengapung sepanjang pesisir danau. Anak-anak hilang timbul dari air danau yang membiru.
Ah kampung itu, lirihnya dalam hati. Masihkah kukuh dengan segala aturan yang membelenggu, sekukuh Merapi dan Singgalang? Atau sudah luruh serupa Rumah Gadang yang mulai lapuk dan lekang oleh musim?
Seorang pelayan menghampiri, “mau pesan lagi, tuan?”
Yusri melirik Marni, perempuan itu menggeleng tanpa suara. “minta rokok sebungkus lagi” kata Yusri dan melirik kembali perempuan itu, tetap tak ada jawaban.
Marni masih bermain dengan pikirannya sendiri dan melarutkannya melewati jendela kaca yang bening. Di seberang kaca ia mendapati kegelapan yang hampir sempurna.
Hidup selalu membuat batasan-batasan tersendiri, atau memang kita yang telah membuat batasan itu?
“Mengapa kita mesti terikat oleh adat mande?”
“Kau harus melupakan Yusri, karena dia tak mungkin menjadi laki kau karena kalian sepasukuan.
“Tapi mande…”
“Pokoknya kau lupakan dia kalau tak mau terbuang dari adat.” Marni mendengus panjang. Ada haknya yang direnggut paksa oleh mande. “Si Syukri lebih pantas buat kau...”
Syukri, Lelaki perantauan itu kemudian hadir dalam kehidupan Marni sebagai lelaki pilihan mande dan abak. Lelaki yang masih berpautan darah dengan abak. Siapa yang tak sudi bermenantu Syukri? bujangan kaya di ranah rantau yang memiliki dua buah toko grosiran pakaian jadi dan sebuah restoran padang.
“Mande sudah membuat perhitungan dengan Tek Supiah, bahwa kau akan dikawinkan dengan Syukri.”
“tapi mande…”
***
Senja terus merambat jauh, mereka masih saja sama-sama membisu. Marni menyedot juice yang hampir habis. Ia melirik Yusri sekilas dan melemparkan pandangan ke sekeliling. Ruangan itu masih sepi, hanya beberapa meja yang terisi. Alunan musik mengiringi ayunan perasaan mereka, terkadang ada nada yang lirih dan merintih berikutnya ada nada yang tumpang tindih. Ia tak mempedulikan rentak-rentak irama itu yang ia tak habis pikir kenapa mereka masih membisu, apakah perpisahan sekian tahun telah merendam semua perasaan dan kenangan yang pernah hadir dalam hati mereka masing-masing. Ia masih berpikir bagaimana cara untuk memulai percakapan dan berharap Yusri menemukan cara pula untuk mengakhiri kekakuan ini.
Menemui Yusri membuka kembali masa indah yang pernah mereka lalui sepanjang menyusuri sungai dan jembatan kereta yang berkarat, jalan-jalan kampung yang berdebu, sawah-sawah yang bertingkat, ladang-ladang bawang, bau asap dari unggun jerami yang lembab, atau membuka kembali gambaran-gambaran impian yang pernah mereka tautkan sepanjang ranah perantauan, menambatkan jalinan kasih di sudut-sudut kantin kampus, coretan-coretan di belakang kursi bus kampus, gedung bioskop tua, mal dan plaza yang menjulang, namun pertemuan ini juga menghadirkan perasaan bersalah yang berselimut di dadanya.
Apakah ia akan mengkhianati sumpah perkawinannya dengan Syukri, lelaki yang telah memberinya dua orang anak itu. Mungkin pulakah ia menyalakan sepercik api cinta yang telah lama terpadam oleh putaran musim dan kungkungan adat?
Haruskah aku memenuhi ajakannya untuk bertemu sore ini? Pikir Marni saat siang tadi menerima pesan singkat dari Yusri. Bukan ajakan, sebenarnya Marnilah yang terlebih dahulu memancing pertemuan ini. Tanpa sengaja pada suatu siang mereka bersua di pelataran parkir pusat perbelanjaan di kota ini. Mereka sempat berbincang sekedar basa-basi dan bertukar nomor ponsel. Dari pertemuan itu mereka kerap bertukar kabar lewat sms sampai-sampai pada persoalan rumah tangga yang di hadapi Marni.
Ah, mereka masih tetap membisu. Marni tetap nelangsa menjangkau setiap jengkal kenangan masa lalu yang masih tertanam di benaknya.
“Maukah uda membawaku kawin lari…?”
“Hmm…!!!” Marni mendesah panjang, Marni menggeleng, ia tahu Yusri tak berani mengambil resiko membawanya kawin lari. Mengambil sebuah pilihan dan sikap bahwa hidup tidak mesti harus tunduk pada aturan adat. Pernahkah kita bisa memilih untuk dapat lahir dari rahim yang lain? untuk dapat lahir dari suku yang lain? Begitu tanya Marni berkali-kali kepada mande dan abak.
“Maafkan uda…”
“Uda memang tak punya nyali”
Pesta yang meriah kemudian melenyapkan kisah cinta antara Marni dan Yusri, melenyapkan kisah cinta bunga larangan. Menjadi sebuah jawaban bagi mande dan abak bahwa hukum dan ketentuan adat tidak dapat ditentang dan ditawar, tak peduli apakah perkawinan dilandasi oleh cinta atau tidak.
“Nanti kau juga akan mencintai Syukri, seiring waktu…” bujuk mande saat malam bainai. Waktu kemudian memang mengajarkan Marni untuk mencintai Syukri, menerima lelaki itu sebagai belahan hati kendati ada harapan dan hati yang lain tersakiti. Kehidupan mereka berjalan lurus meski terkadang ada riak-riak kecil yang menggoyang bahtera rumah tangganya. Kemampuan ekonomi Syukri yang tergolong mapan menambah kebahagiaan bagi Marni, terlebih setelah hadir dua orang anak perempuan yang mengingatkan dirinya saat kanak-kanak.
Ia merasakan telah memenuhi tanggungjawabnya sebagai anak yang selalu patuh kepada mande dan abak, mengikuti kemauan mereka dan menghindari coreng yang barangkali akan terukir di wajah mereka karena melanggar pantangan dan aturan adat yang terkadang rumit dan sempit. Tapi cukupkah dengan cinta memupuk mahligai perkawinan jika dalam rentang waktu yang bergulir kemudian ada dusta?
Akhir-akhir ini ia merasakan ada yang tidak beres dengan suaminya, tidak seperti biasanya, lelaki itu sudah sering terlambat pulang dengan berbagai alasan, kadang dalam keadaan setengah mabuk, sering marah tanpa sebab (kadang mulai main tangan). Marni juga sering mendapati sms-sms mesra dari berbagai nomor yang disamarkan dengan nama laki-laki.
Marni mulai mencemaskan hal-hal yang tak diinginkan. Apakah suaminya mulai main serong? Apakah suaminya seorang gay? atau biseksual? Tidak suaminya lelaki normal, pernah Marni mencoba menelepon nomor-nomor yang berisi sms mesra dari nomor yang disamarkan dengan nama laki-laki itu, tetapi yang mengangkat semuanya suara perempuan.
Situasi semakin runyam setelah Marni menanyakan perihal perempuan yang mengangkat telepon itu pada suaminya. Pertengkaran kecil kemudian meletupkan bara-bara di hati mereka. Melukai perasaan dan meruntuhkan cinta yang perlahan-lahan dibangun oleh Marni.
Marni kemudian semakin yakin bahwa ada wanita lain yang hadir diantara mereka ketika dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan suaminya membawa seorang wanita muda ke klinik dokter kandungan. Apakah suaminya telah menghamili perempuan itu? Sampai di sini Marni telah mencapai titik didih, telah mencapai batas kesabaran sebagai seorang isteri.
“Hmm…”, Marni mendesah panjang lagi. Sebuah panggilan masuk di ponsel Marni, membuyarkan lamunannya.
“Kok lama kali ma? katanya cuma beli kado?”
“Iya sayang, sebentar lagi mama pulang, nih mama udah beli kadonya.”
Marni kembali ingat tadi ia berjanji pada anak bungsunya untuk membeli kado ulang tahun. Tak terasa anak itu sudah menginjak usia tujuh tahun, dan bulan depan akan memasuki bangku sekolah. Sedangkan kakaknya telah duduk di kelas dua SD.
***
Yusri melirik Marni, menatap dalam-dalam perempuan itu. Matanya, bibirnya, hidungnya masih seperti dulu, meskipun dihiasi garis-garis yang menyiratkan beban batin tapi Yusri masih tetap menyimpan kekaguman terhadap wajah itu, menyimpan kerinduan itu. Mata mereka bertemu, seperti mengalirkan sungai dan riaknya yang berkecipak di bebatuan. Ada pengharapan yang ditemui Yusri pada kelopak mata itu.
Bukannya uda takut membawamu lari adinda. Ah, tak mampu Yusri menatap mata itu terlalu lama, ada perasaan yang menusuk hatinya, meski harus membalut luka itu dan mengikhlaskan bunga kasihnya itu disunting orang.
“Barangkali itu lebih baik buat kita dan orang tua, dinda…?”
“Akh uda pengecut!” terngiang kembali ucapan itu ditelinganya. Terasa perih menyayat relung hatinya yang rapuh.
Kemudian hari-hari Yusri seperti putaran waktu yang hampa, menggelinding berpacu dengan detak dan detik menyusuri musim dan liukan angin. Sebenarnya tak ingin Yusri membuka kembali harapan itu, terlebih lagi ia sudah dapat memahami bahwa adat telah menciptakan batasan-batasan dengan berbagai pertimbangan, memahami bahwa adat telah mengukur dan mengatur perkawinan dengan berbagai kearifan, meskipun itu mengorbankan setengah perasaannya. Kini dengan goyahnya mahligai rumah tangga Marni, apakah ia akan memanfaatkan kesempatan itu? Merebut kembali kenangan silam yang membuat dirinya sanggup untuk tidak pernah jatuh cinta lagi? membuatnya sanggup untuk menjadi lelaki bujangan sepanjang hidup.
Yusri menghempaskan asap rokoknya lagi, asapnya berpendar dan memudar lewat angin yang menelusup dari sela-sela ventilasi. Barangkali asap rokok itulah cinta sejati bagi Yusri. Menemaninya mengembara jauh menelusuri sungai dan laut, menjelajahi gunung, hutan dan lembah. Membingkai kota-kota dan kampung-kampung dalam figura, memotret berbagai wajah dan peristiwa.
Mereka masih saja bermain dengan pikiran sendiri, Yusri mengalihkan pandangan ke luar jendela, sepasang kekasih bergandengan tangan menyusuri jalanan yang mulai lengang disiram cahaya lampu mercuri. Malam kian muram dalam balutan sepi, mereka masih saja membisu menikmati aliran musik penutup yang melantun lembut di kafe itu.
“Maaf tuan, nyonya kami sudah harus tutup.”
“Oh…ya?”
***
Mereka berjalan sejajar dengan agak terburu-buru. Haruskah aku melanjutkan rencana ini? Batin Marni. Ia kembali ingat janjinya pada si bungsu yang berulang tahun hari ini. Tentu bocah itu sudah kelelahan menunggu, menanti kehadiran Marni dengan membawa kado boneka winnie the pooh yang selalu diimpikannya. Mungkin juga bocah itu sudah terlelap dalam pelukan Mak Inah, pembantunya, menanti Marni yang tak kunjung pulang.
Mereka terus melangkah, kali ini sudah memasuki lobby sebuah hotel. Haruskah aku mengkhianati suami dan anak-anakku?, Ah… ini bukan pengkhianatan, bukankah lelaki itu yang lebih dulu mengkhianatiku? perasaan itu terus berkecamuk di kepala Marni. Mereka terus melangkah menyusuri kamar-kamar yang berjejer seperti gerbong kereta. Langkah mereka makin rapat pada kamar yang dituju. Malam terasa panas, suasana sepi, sepi sekali…
***
Empat tahun berselang. Sebuah petang di rumah gadang.
Mande menatap jauh ke halaman mengenggam selembar surat dari tanah seberang. Seperti sebuah simalakama. Hatinya perih dan tak menentu. Matanya menatap anak-anak yang bermain di halaman. Ia seperti menemukan Marni kecil disana bermain tanpa lelah seharian, juga menemukan Yusri kecil disana.
Ah, seandainya mereka tidak sepasukuan sudah tentu aku sangat merestui hubungan mereka, batin mande. Tapi saat ini masihkan mande kukuh untuk tetap tidak merestui mereka? Abak keluar dari kamar dengan batuk yang berdengkang, badannya sudah membungkuk jalannya tertatih-tatih menyisakan bunyi lantai rumah gadang yang sudah lapuk.
“Apalagi yang diinginkan anak tak tahu diuntung itu?” umpat abak, nafasnya tersengal-sengal. “dasar anak durhaka…”
“Tak baik mengumpat anak terus tuan…” mande melipat surat, ia menyeka matanya. Ada yang hendak tumpah dari kelopak matanya yang keriput. Disusunnya kembali ingatan tentang Marni, tentang tahun-tahun tanpa kepulangan, tahun-tahun tanpa ceria cucu-cucunya yang lucu. Ingin rasanya ia melabuhkan kerinduannya pada Marni, menjelang tanah rantau, tapi selalu tak ada restu dari abak. Lelaki itu terlalu keras untuk dilunakkan. Baginya tak ada lagi Marni, tak ada lagi anak perempuan yang dulu dibanggakan. Anak itu telah mencoreng aib di wajahnya. “tak ada maaf, meskipun badan ini berkalang tanah…”
“Maafkan Marni, mande… mungkin inilah sebuah pilihan. Biarlah badan terbuang dari adat, terbuang dari ranah mande selamanya. Biarlah Marni telan buah yang pahit ini. Hidup terkadang harus juga memilih mande.”
Mande beranjak, menggeser tubuhnya yang hampir layu. Ia berwudhu, azan ashar telah lama lewat. Selesai sholat ia panjatkan do’a. airmatanya tumpah…***
Pekanbaru, 2008
Laki : Suami
Sepasukuan : Satu suku (berdasarkan garis keturunan ibu)
Uda : Panggilan untuk laki-laki yang dituakan
Mande : Ibunda
Abak : Ayah
Selasa, 30 September 2008
sajak bisu
Perjalanan Subuh aku terbangun pada sebuah subuh yang gigil lalu, aku ingat anakku, setiap langkah kupasang tanda ah, banjir matahari telah mengurut ubun-ubunku anak-anak penjaja koran berhamburan aku lelah, di bawah pohon rimbun, tak terasa angin siang membelai rantau dalam gerimis, 28042008
: reformasi celana dalam
menemui diriku meyusuri lorong-lorong panjang dan sepi
memungut sisa cahaya bintang yang tinggal satu dua
aku sebenarnya gamang membaca hari-hari
gamang akan perutku yang keroncongan
atau teriakan kelaparan dari sudut-sudut jalan
kuhirup udara yang sebentar lagi penuh candu
dan kuseduh air dari kebun embun
aku tertegun pada pertemuan siang-malam
ketika oplet tua dengan suara klakson merintih
suara penjual roti menjajakan sisa kemarin
atau rengekan bocah-bocah mandi pagi
bukankah ini hari pertama baginya untuk sekolah?
ah, seragam untuknya belum sanggup kubeli
belum lagi buku, pensil, sepatu, tas baru, kaus kaki dan jam tangan
"jam tangan?" tanyaku dengan kening yang berlipat
"iya ayah agar aku tak menyia-nyiakan umur" katanya
agar tak tersesat saat kembali
apalagi perjalanan masih terasa jauh
belum lagi kadang cuaca tak tentu arah
musim seperti menertawakan
kadang badai, kadang kemarau, kadang banjir
aku ingat kemarin banyak bantuan sembako yang salah alamat
dengan balutan bendera parpol dan gambar-gambar pejabat
kemacetan mulai menghadang perjalanan
apalagi lampu merah cuma jadi hiasan
pada kota yang makin jangkung dan angkuh ini
"ada razia, ocu" katanya padaku dengan nafas yang ngos-ngosan
istirahatlah dulu sebentar, aku bergumam pada diri sendiri
bukankah saat tak ada lagi yang mau mendengar
masih ada hati tempat menimang pendapat?
di pinggir jalan aku menyandarkan tubuh
melepas penat dan mengendurkan urat-urat
mematut baliho raksasa gambar calon gubernur
atau gambar iklan sampo dengan model perempuan setengah telanjang
aku ingat cita-cita anakku : mau menjadi hakim
ah, mampukah hukum dan keadilan tegak di negeri ini?
bukankah hukum hanya sepotong roti,
dapat ditawar dan dibagi-bagi?
hingga aku lelap bermimpi
sampai tangan petugas pamong praja
mencekal leherku
"bangsat kau gelandangan" umpatnya.***
Negeriku Berwarna Kelabu
Ada asap dan mantra mantra
Sepanjang sejarah dan hapalan bisu
Negeriku negerimu dan negeri ibu
Sepanjang pantai yang berbibir burai
Sepanjang bukit dan betisnya berjuntai
Tiba-tiba asap menyelimuti negerimu ibu
Ada bangkai dan aroma burung hangus
Kota kelabu, 120108
Resah
Aku berjalan tanpa suara
Mencari makna pada sebuah pencarian
Gelisah dalam pertemuan dan perpisahan yang kita buat sendiri ada air mata yang mengering di ujung senja dan isak yang masih tersisa ku merindui malam yang kita bagi tanpa ada prasangka dan benih dusta aku terus melangkah tanpa suara mencari sisasisa riwayat makna terlupa ada reruntuhan yang menyisakan puing dan debudebu ada api yang membakar api serta racun menyergap dalam ingatan aku ingin menyisakan tangis walau separuh sudah tumpah dalam mimpi buruk semalam kita akan terus mencari atau kita yang didatangi?
***
Kota dalam keresahan, 12-01-08
Baca Selengkapnya......
Kamis, 28 Agustus 2008
Cerpen
Terik matahari menjilat ubun-ubun. Debu-debu beterbangan menggambarkan kerisauannya pada kota ini. Lalu lalang kendaraan nyaris tak pernah berhenti, mengalir seperti darah yang bersemayam di tubuh Parti. Kesempatan orang-orang menyeberang hanya ketika lampu merah menyala. Itu pula kesempatan bagi Parti mengais sedikit rejeki dari pengendara kendaraan untuk melangsungkan hidupnya. Ia harus pandai-pandai mengira-ngira kapan lampu hijau akan menyala, jika tidak sumpah serapah pengemudi akan didapatinya karena menghambat arus lalu lintas di persimpangan itu. Sumpah serapah seakan sudah menjadi tembang pilu di telinga Parti.
Dua tahun belakangan Parti hidup di antara lalu lalang kendaraan. Asap hitam dari kenalpot kendaraan sudah menjadi nafas dalam kehidupannya. Bising deru jalanan dan kelakson kendaraan seakan menjadi lagu kesepian dan kesedihan. Airmata sudah lama kering dan tidak berguna lagi merembes dari kelopak matanya.
Parti menggantungkan hidupnya di kota ini. Kota yang menurut orang-orang tempat yang menjanjikan berjuta harapan dan impian. Pusat-pusat perbelanjaan tumbuh subur seperti cendawan di musim hujan, setiap waktu ratusan petak ruko berdiri tidak terkendali berjejer dan bersusun seperti gerbong-gerbong kereta api yang siap diberangkatkan. Hotel-hotel dan perumahan mewah silih berganti dibangun. Jalanan dalam kota terus diaspal mulus setiap tahunnya, taman-taman kota setiap saat diubah wujudnya seperti menyolek gadis calon penganten, sementara di pinggiran lihatlah! Masyarakat hidup berkubang lumpur atau hidup di bantaran sungai yang sudah tidak bersahabat lagi. Limbah industri, sampah-sampah rumah tangga telah membunuh ekosistem sungai. Penggusuran dimana-mana dengan alasan mereka merusak wajah kota yang sedang bersolek indah, orang-orang berontak, pedagang-pedagang kaki lima dihajar pentungan aparat keamanan.
Tetapi ribuan orang terus berdatangan ke kota ini. Berdatangan seperti lebah, Menambah sesak populasi dan menimbulkan kerawanan sosial. Perampokan, pembunuhan, jambret, pemerkosaan, prostitusi, perjudian mulai dari kelas kampung hingga kelas elite menghiasi halaman surat kabar. Parti tidak punya pilihan lain selain bertahan dalam kondisi seperti itu.
***
Parti ingat, lima tahun yang lalu. Sukijo. Banyak jejaka kampung yang menaruh hati pada Parti tersebab ia adalah primadona di kampungnya, tapi semua tak mampu merubuhkan cinta Parti pada Sukijo. Ya Sukijo lelaki kota, lelaki kampung yang sudah menjadi lelaki kota. Setiap kepulangan Sukijo ke kampung itu selalu menjadi debaran bagi gadis-gadis kampung. Sukijo sangat ahli menebarkan racun cintanya kepada semua gadis. Kota telah mengajarkan ia dengan keahlian itu. Gadis-gadis berebut memakan umpan cinta Sukijo. Parti terperdaya ia memakan umpan itu. Ia telah diracuni oleh cintanya terhadap Sukijo.
Parti membayangkan dirinya menjadi permaisuri Sukijo. Membawa imajinasinya kepada gemerlap hidup di perantauan dengan lelaki pujaan hatinya, Sukijo. Parti telah menetapkan hatinya. Pilihan yang menurutnya adalah sebuah masa depan. Masa depan dengan kehidupan yang sangat indah.
“Kamu yakin dengan pilihanmu…” tanya Tarmi suatu malam dibawah siraman rembulan.
“Ya aku sudah menetapkan pilihanku,” Parti tersenyum bangga.
“Tidakkah kamu bisa membuka sedikit matamu dan mencoba menyelidiki siapa Sukijo sebenarnya?”
“Maksud kamu apa?” Parti tidak senang. Ia tidak rela Sukijo dicurigai oleh sahabatnya itu.
“Maksudku lebih baik kamu menyadari dari sekarang ketimbang belakangan hari”
“Dengar ya Tar, aku tahu kamu cemburu, aku tahu kamu juga menaruh hati pada Mas Kijo” Parti naik darah sahabatnya makin menyudutkan Sukijo di hadapannya.
“Ya aku pernah menaruh hati padanya, pernah termakan rayuan gombalnya itu, tapi…”
“Cukup! Jangan kau teruskan kata-katamu itu, aku muak kau terus menyudutkan mas Kijo” Parti beranjak, hatinya luka dengan kata-kata sahabatnya itu. pilihan sudah ditentukan dan tidak bisa ditentang lagi, bahkan oleh orangtuannya sendiri. Parti tetap ngotot ingin kawin dengan Sukijo dan segera boyongan ke tanah rantau di seberang pulau.
Akhirnya berlabuhlah Parti di kota ini. Seberang pulau. Setumpuk angan-angan Parti bersandar seiring kapal yang menyandarkan badannya di tepi dermaga. Mimpinya tertanam serupa jangkar yang ditanam ke perut pelabuhan. Parti membayangkan dirinya dalam gemerlap siang malam, hiruk pikuk kota yang tak pernah lelah. Malam terasa singgah sejenak di kota ini. Jalanan bertabur cahaya. Tidak seperti di kampung Parti, malam ibarat kematian, sunyi senyap, tak ada yang namanya taman hiburan, pub, karaoke, jalan-jalan ke Mal atau nonoton di bioskop super moderen. Yang ada hanya kentungan peronda atau sesekali pagelaran wayang semalam suntuk. Pada malam terakhir ramadahan baru kampungnya agak ramai. Biasanya orang-orang pada mudik dari rantau. Menjenguk sanak saudara sambil silaturahmi, indahnya Idul Fitri. Tetapi setelah lebaran berlalu berangsur-angsur orang kembali ke rantau. Tinggal kampung kecil itu dalam kebisuan dan kesunyiannya.
Semua kebanggan dan harapan yang telah dibangun Parti perlahan-lahan digerus oleh kejamnya kota ini. Bualan Sukijo tentang kesuksesannya di rantau hanya pemanis racun cintanya. Tak ada rumah yang besar dengan halaman yang dipenuhi bunga-bunga yang indah. Di kota ini Sukijo hanya menempati sebuah rumah kecil di bantaran sungai yang penuh lumpur, tak terawat dan terasing. Tak ada profesi Sukijo sebagai kontraktor di kota ini sebagaimana yang di sampaikannya kepada Parti waktu itu. Di kota ini Sukijo hanya kerja serabutan. Kadang jadi kuli bangunan kadang kuli pelabuhan, kadang sampai tidak bekerja hingga tiga mingguan lebih.
Berbulan-bulan setelah itu Sukijo mulai jarang pulang. Kalaupun pulang hanya melampiaskan kejantanannya. Dengan meninggalkan beberapa potong pakaian kotor dan sedikit uang ia pergi lagi. Beberapa hari setelah kepulangan terakhir polisi mendatangi rumah mereka.
“Kami harap ibu bisa bekerjasama dengan kami.”
“Saat ini saya sendiri tidak mengetahui keberadaan suami saya, seminggu yang lalu ia terakhir pulang, itupun hanya semalam.” Mata Parti basah
***
langit menabur cahaya. Bulan tampak berseri. Daun-daun kering bergemerisik karena diinjak. Seseorang megendap-endap di samping rumah Parti. Diketuknya jendela kamar.
“Parti…parti….” Suara itu memanggil lagi sambil mengetuk daun jendela. Samar-samar Parti mengenal suara itu. Ia memberanikan diri membuka jendela.
Sukijo diam saja. Diambilnya kursi untuk naik ke atas loteng. Tangannya menggapai meraih sebuah bungkusan. Ia memeriksa isi bungkusan itu. Sebuah pistol dan beberapa butir peluru. Buru-buru dibungkusnya kembali benda itu sebelum Parti sempat melihat. Ia selipkan dipinggangnya.
Sukijo tertunduk lesu di kursi rotan yang mulai rapuh. Ia bimbang saat ini. Pilihannya ada dua, tetap disitu sampai polisi datang meringkusnya dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di balik terali, atau kabur saat itu juga.
Di luar terdengar derap langkah diiringi suara orang berbicara. Sukijo langsung waspada mengintip dari jendela. Ketakutan mengajarkan ia selalu waspada. Makin lama suara itu makin mendekat. Ketiga orang itu membawa senter dan pentungan kayu. Sukijo memastikan mereka hanyalah warga yang sedang ronda, ia tetap waspada. Orang-orang itu agak lama berdiri di depan rumahnya. Mereka mengarahkan senter ke semak-semak samping rumah itu. Sukijo memberi tanda kepada Parti untuk tidak bersuara.
***
Malam itu adalah malam terakhir Parti bertemu dengan Sukijo. Sejak saat itu Sukijo tak pernah kembali dan menghilang tanpa jejak dari kehidupan Parti. Perhatian polisi mulai berkurang terhadap kasus Sukijo, barangkali karena tidak ada lagi aksi kejahatan yang dilakukannya. Perlahan nama Sukijo tak lagi menghiasi halaman koran kriminal, tetapi ia tetap target utama daftar pencarian orang.
Langit berubah mendung siang ini, awan berarak menggumpal hitam. Dagangan Parti belum berapa terjual, padahal arus lalu lintas cukup padat sejak tadi. Lampu merah menyala, Parti menyodorkan dagangannya berebutan, ia tidak sendirian. Ia harus bersaing dengan pedagang asongan lainnya, juga anak-anak penjual koran, pengemis dan pengamen. Di perempatan ini berpola three stop one go. Lampu hijau hanya menyala pada satu ruas jalan sedangkan di ruas jalan yang lain menyala lampu merah. Begitu terus sesuai dengan putaran arah jarum jam.
Dua ratus meter dari tempat Parti berdiri, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak jauh di belakang sepeda motor itu, meluncur pula mobil patroli polisi. Bunyi sirine meraung-raung. Semua terpana melihat kejadian itu.
Pekanbaru, 2006-2008
Riau Mandiri 27 Jan 2008
Senin, 25 Agustus 2008
JIKA TUBUHMU ADALAH, DAN AROMA ITU
Jika tubuhmu adalah pulau
Sudikah hatimu kujadikan pelabuhan
Tempat kita menanti senja
Biarkan siluet tubuh kita
Sama-sama telanjang
Hmm, aroma rambutmu
Sudikah untuk kuhirup seribu tahun lagi
“tapi cinta adalah kecemasan”
jika tubuhmu adalah malam
sudikah hatimu kujadikan suluh
tempat kita menanti subuh
biarkan embun membasuh
persetubuhan kita yang rapuh
hmm, aroma tubuhmu
mengingatkan aku pada adam yang khilaf
“bukankah cinta juga kegelisahan?”
Jika tubuhmu adalah puisi
Sudikah hatimu kujadikan intonasi
Tempat kita merintih
Biarkan suara kita lirih
Menyanyat kenangan yang perih
Hmm, linangan air di matamu
Mengingatkan aku tentang umur kita yang senja
“meskipun cinta kita tak terkarang”
Jika tubuhmu adalah pelangi
Sudikah hatimu kujadikan sunyi
Tempat kita memaknai bunyi
Bukankah kehidupan dijalin mimpi
Hmm, aroma tubuhmu
Sudikah kubangun istana diatasnya?
“terkadang cinta memang meradang”
Jika tubuhmu adalah tubuh itu
Sudikah hatimu kujadikan hati itu
Tempat kita menaruh cinta
Biarkan segala peristiwa merangkai cerita
Hmm, aroma tubuhmu
Aroma tubuh itu…
Pekanbaru, Juli 2008
